jump to navigation

Tren Sosialita Desember 23, 2011

Posted by t3ph in Opini.
Tags: , , , , ,
trackback

Tadi siang aku dibuat kaget dengan berita yang disodorkan Jelang Siang oleh TransTV. Tidak biasanya acara berita menyodorkan sajian dengan judul: TREN SOSIALITA, memperlihatkan 15-20 wanita berdandan seperti ke pesta, dan riuh berfoto bersama. Mungkin sekilas seperti gerombolan artis sedang arisan bareng di sebuah restoran. Menurut laporan Jelang Siang, kata ‘sosialita’ sendiri dulu maknanya adalah wanita kalangan jet set yang rutin berpartisipasi di acara-acara sosial seperti derma kepada kaum papa. Namun disayangkan sekarang maknanya bergeser jadi kaum ibu-ibu kalangan jet set yang suka berkumpul bersama. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun jadwal mereka sungguh padat tak ubahnya wanita bisnis. Hari ini arisan, sore nanti ke salon, malam ini si Bu ANU ulang tahun dan dinner di hotel B. Begitu kira-kira.

Salah satu sosialita tersebut bersedia diwawancara Trans TV, sebut saja Bu AN ibu dari 3 anak, sebagai ibu rumah tangga dia perlu refreshing dan pergi bersama teman-temannya sekali waktu. Dia mengaku bahwa dia sudah mengantongi ijin suami, asalkan keluarga tetap jadi prioritas utama. Yang mana aku bertanya-tanya, bagaimana bisa sosialita dengan jadwal padat seperti itu, dan pengeluaran yang besar untuk mempercantik diri supaya ga kalah dengan teman-temannya, suaminya oke-oke saja di rumah merawat anak? Suamiku aja baru ditinggal nyalon 3 jam, dititipi anak, mukanya dah manyun kiyun waktu aku pulang.

Lalu ada istilah lain yaitu ‘social climber’, yang mana artinya orang bukan dari kalangan jet-set tapi berupaya bergabung dengan kaum high-end ini. Tentu tak mudah, karena kalangan sosialita tidak begitu saja menerima anggota baru. 

Lucunya kemudian seorang sosiolog ditampilkan, dia berkata bahwa disayangkan jika sosialita-sosialita ini menghabiskan uangnya untuk foya-foya, lebih baik untuk membantu kaum yang membutuhkan. Lalu ditayangkan kondisi perumahan kumuh di Indonesia dan bakcground suara: “…menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin jauh..” Memang sebuah ironi melihat tayangan ini, di satu tempat para ibu-ibu muda nan jelita ini tertawa riuh dan berfoto bersama (bahkan saking hebohnya ada yang naik ke meja), di tempat lain diperlihatkan orang-orang yang tidak mampu, mungkin untuk makan besok aja mikir gimana duitnya. Yang di benakku adalah bagaimana si Bu AN ini bereaksi melihat tayangan liputan arisannya (yang seharusnya prestige karena diliput oleh TV), berubah menjadi sebuah tayangan yang menyudutkan dirinya? Bukankah semua pemirsa menghakimi dirinya saat menonton tayangan tersebut? Apakah dia tidak tahu dari awal konsep tayangan ini, sehingga dengan senang hati mau diwawancara?

Lalu penyiar Jelang Siang kembali menginfokan bahwa bicara sosialita tidak lepas dari fenomena sebuah tas. Yakk apalagi kalo bukan Birkin dan Kelly dari Hermes. Lalu si Bu AN ini kembali diwawancara, kali ini di rumahnya, dia menunjukkan koleksi tas mewahnya. Beberapa Hermes (yang terlihat seperti gres), Balenciaga, dan Chanel. Dia memiliki beberapa tas Hermes, dan lebih dari 20 aksesori Hermes (gelang dst). Ketika ditanya alasannya mengoleksi tas Hermes, dia mengaku bahwa pada awalnya karena ikut teman. Teman-teman satu group memiliki tas ini, jadi dia ingin memiliki juga. Lalu keranjingan dan membeli beberapa. Padahal dia mengaku bahwa harganya terlalu mahal dan sebenarnya tidak sepadan dengan kualitasnya, hanya menang merk. Kulitnya, bahannya, hampir sama dengan tas-tas lain dengan harga di bawahnya. Tau kan, Hermes harganya bisa ratusan juta rupiah? Blom lagi yang limited edition. Tapi aku bukan penggemar Hermes, kalo mau lebih tau tentang tas ini bisa baca buku Hermes Temptation karangan Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang baru saja meluncur bulan ini. *promogratis*

Aku salut dengan salah seorang artis kita. Dia pernah berkata: “Aku ngga perna beli berlian ato tas bermerk. Bayangkan aja, harga satu tas Rp 60 juta. Itu ngga penting buat aku. Itu bisa buat beasiswa beberapa anak setahun. Nggak make sense banget.” (Cinta Laura, Jawapos 20 Juni 2011). Dia menyumbangkan penghasilannya ke yayasan ibunya, yang kegiatannya membangun sekolah-sekolah rusak, total ada 11 sekolah yang sudah dibangun.

Pernah nonton Machine Gun Preacher? Disitu seorang evangelist yang berjuang mati-matian membangun tempat perlindungan untuk anak-anak di Sudan. Dia menjual bisnisnya, menguras smua tabungannya, demi mendanai camp yang dibangunnya di Sudan. Di satu scene, dia marah besar kepada putrinya ketika putrinya meminta ijin untuk patungan dengan teman-temannya menyewa limousin untuk acara prom night nya. “Anak-anak di Sudan itu membutuhkan uang, dan kamu mau menghamburkannya untuk sebuah limo?”, bentak ayahnya.

Menurutku sah-sah saja orang mau beli tas merk, sepatu puluhan juta, mobil mewah, kalo memang orang itu sangat luber kekayaannya sampai tidak tahu lagi mau dipakai apa. Tapi aku menyayangkan banyak orang terutama generasi muda, giat menabung dan berhemat dengan tujuan untuk beli tas puluhan juta. Orang-orang ini membeli tas hanya untuk menunjukkan status sosialnya, menaikkan derajatnya, dan untuk memuaskan gengsinya di kalangan teman-temannya. Singkat kata: untuk pamer.

Kata-kata Cinta Laura dan si Evangelist tadi membuatku merenung, buat apa sih kita menggelontorkan duit 30 juta untuk sebuah tas? Masih banyak anak-anak di Ethiopia yang makan saja tidak bisa. Kita ini sudah beruntung punya rumah, bisa makan dan hidup secara layak. Tulisan ini sekaligus untuk mengingatkan aku, saat nanti aku kaya raya luber kemana-mana *ngarepdotcom*, hendaknya aku ingat bahwa diluar sana masih banyak anak yang kurang beruntung. Use your money wisely. We are blessed to bless.

Komentar»

1. Leony - Desember 23, 2011

Tep, benernya ya, kalo yang bener-bener kaya itu, justru nggak ikut kegiatan sosialita kayak gitu. Orang yang bener-bener kaya dan sosial itu juga banyak. Kalau misalnya gue jadi kaya banget, gak masalah juga kok beli barang-barang mahal, sometimes we need self indulgence sekali2, tapi ya harus diimbangi juga dengan donasi kita ke masyarakat, bisa dalam bentuk uang, kegiatan, ataupun sumbangsih ilmu. Justru yang kaya banget tapi tak terekspose itu, JAUH lebih nikmat, apalagi kalau di belakang kita bisa memberi, tanpa perlu dikotori dengan niat untuk pameran. Ya gak?

t3ph - Desember 23, 2011

Iya bener banged. Ada orang-orang kaya yang sederhana, punya barang merk juga ga koar-koar, dipakai untuk kepuasan pribadi, bukan karena ikut-ikutan teman atau untuk pamer. Orang-orang yang gak di expose ini emang orang yang beneran kaya dan tidak perlu membuktikan dirinya. Tapi aku mengelus dada, ada orang-orang yang sebenernya tidak sekaya itu, tapi maksain dirinya untuk beli tas Hermes. Apalagi banyak juga yang beli palsunya. Liat aja tuh di majalah-majalah, sosialita yang pake Hermes tidak terhitung jumlahnya. Pertanyaanku: Kenapa mereka pake? Senang modelnya ato ikut-ikutan biar gengsi?
Mudah-mudahan ya, negara kita terutama di ibukota, tidak makin matre dan hedonis, lebih sosial dan belas kasih.
Dannn smoga orang-orang seperti kamu dan saya yang jadi kaya *teteb ngarep* hahaha

2. inten - Desember 23, 2011

ya ampun.. kalau aku punya uang banyak buat program bayi tabung mbak hehhe…

t3ph - Desember 23, 2011

Wah kmrennya aku juga baca di koran tentang ortu2 yang bayi tabung. Katanya walopun sakit bgt, tp dia rela ngulang sampe 3x (sehingga anaknya 6: anak pertama, lalu kembar kedua dan ketiga, yg trakhir kembar 3 (ke-4,5, dan 6). Smuanya dari bayi tabung. Mudah2an yang terbaik buat Mbak ya :)

3. Elrica - Desember 24, 2011

AH, gw ada temen yang boooo berusaha jadi social climber..tapi karena ga kesampean gabung sama sosialitta beneran..dia nyiptain dunia sosialita dia sendiri..pergi ngafe di club2 prestige di SG yang harus booking dll..tapi pas ngundang gw karena buka meja, ga berani buka botol karena sayang kalo diminum rame2..*roll eyes*

Trus kalo uda janjian mo brunch ato dinner ma dia dititipin pesen ” dress up ya ” dan sebelon pesen makanan, nunggu makanan, makan sampe selese makan..POTO POTO melulu..langsung upload di fb!

dan pernah sekali gw dateng ke lunch sama dia and other girl..gw baru dari salon potong rambut tapi gw ga dandan..malemnya dia sms gw ” nek, laen kali dandan dong..sama embak gw aja kalah loe ”

Kua..kua..

t3ph - Desember 26, 2011

hahaha lucu amat temen lu ya el, gw bisa bayangin deh. tapi ada orang-orang kaya gini dkt elu, pastinya bikin hidup lu tambah seru donk. ada yang bisa dicritain hihihi :D

4. anisa amalina - Februari 18, 2012

Reblogged this on anisamalina.

5. Alia - Februari 20, 2012

Hihihi….serem banget. Saya lsg ganti channel tv mbak kl udah acara begituan. Miris dengernya apalagi liat. Sementara disekitar kita masih banyak yang susah. Ikut filosofi padi lebih damai.. i agree with Leony…

t3ph - Februari 22, 2012

hehe iya ya, memang klo nonton acara lifestyle ama acara berita, kok beda banged critanya. Tapi menarik lho, fenomena sosialita kaya gini may be only happen in indonesia (correct me if i’m wrong). Soalnya klo diluar negri, setauku ga ada sosialita2 yang terkenal, sering masuk majalah, ato televisi. Yang terkenal ya cuman artis2nya. Spertinya masyarakat Indonesia ini mudah terbawa arus trend (sperti korean boyband yg menjamur, tas hermes, dll) dan cenderung konsumerisme, betul ga?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.