Fobia Pesawat

Beberapa hari lalu aku harus ke Jakarta karena suatu urusan. Aku pergi pagi dan pulang sore, karena tidak tega meninggalkan si kecil terlalu lama. Jujur saja, walaupun aneh di jaman yang mobilitas dituntut tinggi, tapi.. jeng jeng jeng! Aku takut naik pesawat! Bagian yang paling kubenci dari travelling adalah naek pesawat (Dan bagian yang menyenangkan adalah memilih baju alias packing). Perasaan galau dan aras-arasen kurasakan semalam sebelumnya. Kalo boleh memilih, ingin rasanya tidak pergi. Apalagi sudah bertahun-tahun tidak pernah aku naek pesawat sendirian.

Sebenarnya dulu semasa kuliah aku nggak takut naek pesawat. Lha kuliah aja di Sydney. Jaman itu nggak ada penerbangan langsung dari Semarang ke Sydney (sampe skarang juga gak ada kale!). Yang ada aku terbang dari Semarang ke Jakarta, transit 3 jam, lalu terbang lagi Jakarta-Sydney (kalo naek Qantas), atau Jakarta-Bali-Sydney (Garuda), atau Jakarta-Singapore-Sydney (SQ – Singapore Airline). Walo rute terakhir itu yang paling lama (+- 13 jam), tapi aku paling sering naik SQ kalo berlibur ke Indonesia. Kenapa? Pertama, fasilitasnya: ada mini TV untuk tiap penumpang. Jaman itu Garuda belom ada TV masing-masing seperti sekarang. Jadi lumayan, walaupun belasan jam tapi bisa nonton 2-3 film biskop di SQ. Kedua, merasa lebih aman, penerbangannya relatif mulus, smooth, bahkan landing nya paling alusss menurutku dari smua maskapai lain.

Nah mulai kapan ya aku takut naik pesawat? Aku pernah mengalami penerbangan terburuk sepanjang hidup, rute Bali-Sydney naek G*****. Waktu takeoff sih mulus-mulus aja, nah pas udah diatas itu, sepertinya ada badai ato gimana, yang berikutnya aku tau: pesawatku seperti roller coaster. Dalam 5 menit goncanggg terus, berhenti goncang 1 menit, lalu goncanggg lagi. Begitu terus selama 7 jam, hah gimana nggak stres tuh. Udah gitu, aku sendirian dan pesawatnya sepiii banged. Yang naek sedikit. Mau ditidur-tidurin, dimerem-meremin biar nggak kerasa, gak bisaa.. Kerasa sperti syut syutttt… (pernah naek tower yang diluncurin tiba-tiba dari atas itu gak? Yang berasa roh nya ktinggalan diatas? Nah seperti itu tuh) Rasanya mabuk udara + mual. Dan sampai hari ini, menurutku itu adalah salah satu pengalamanku closest to death (yang satunya lagi pas aku tenggelam di kolam renang umum waktu umur 12 tahun). Waktu itu aku udah nggak berdoa lagi supaya pesawatnya bisa mendarat selamat. Aku berdoa supaya aku masuk Sorga. Yeah I was that sure that my plane will never make it. Jadi ketika akhirnya roda pesawat itu mendarat dan selamat, aku hampir-hampir tidak percaya! Bahkan beberapa orang di bangku depanku bertepuk tangan and give applause to the pilot.

Penyebab yang kedua, aku rasa setelah kejadian Adam Air jatuh. Liputannya di koran, TV, dan berbagai forum di internet aku ikuti. Berbagai analisa dan spekulasi aku ikuti. Dan bener-bener ngeri loh. Itu pesawat di udara bisa tiba-tiba menukik tajam lalu terjun ke laut (masih inget bener gambar ilustrasinya di koran). Padahal setahuku, pesawat itu paling aman kalo lagi di udara. Sebab data membuktikan bahwa kecelakaan pesawat terbanyak adalah waktu landing, yang kedua waktu take off, dan ketiga (yang sangaaat jarang) adalah waktu di udara. Jadi serem kan, kalo tanpa diketahui penyebabnya, pesawat di udara bisa tiba-tiba lost contact dan jatuh?! Gara-gara kebanyakan ngikutin berita ini, aku jadi sering ngebayang-bayangin dan takut sendiri!

Nah untungnya kmaren ini, baik penerbangan pagi maupun sorenya, tergolong mulus. Tapi tetep aja pikiran-pikiran buruk itu ada mampir maen di kepalaku. Mataku udah mengincar pintu Emergency exit dan membayangkan apa yang harus kulakukan kalo ada Emergency landing (yang pertama kulakukan adalah membuang sepatu hak tinggiku). Bahkan saat penerbangan kedua, ketika aku dapat seat sebelah Emergency exit persis, aku bisa membayangkan berbagai skenario. Misalnya bagaimana kalo pintu ini menutup kurang sempurna dan jebol? Lalu kursi penumpang  (terutama kursiku yang sebelahnya persis) tercabut dari karpet dan tersedot keluar (Well, ini pernah kutonton di Aircraft Disaster Investigation di Discovery Channel). Lalu muncul ide cemerlang, aku bisa menggunakan tas Longchamp ku sebagai payung seperti di terjun payung. Tentu setelah kukosongkan isinya.

Lalu aku teringat kisah anak teman papamamaku. Suami istri (anak dan menantu dari teman ortu) dirampok dan tewas dibunuh. Meninggalkan dua anak masih umur 4 dan 2 tahun. Anak-anak itu bertanya kepada kakekneneknya, Mama mana? Papa mana? Miris banged kan. Kenapa juga aku inget kisah-kisah gini saat aku travelling tanpa anakku. Haish!

Yah mungkin dibilang fobia sih masih level 1. Toh aku tetep milih naek pesawat daripada naek kereta ataw mobil ataw kapal. Tapi sbenernya, apakah ini tergolong paranoid?

4 thoughts on “Fobia Pesawat

  1. Iya ya emang ngeri sih kalau di pesawat, aku neh masih ada tambahan ngerinya berhubung tinggal di USA, ngeri kejadian 9-11 terulang lagi. Dulu sih waktu masih kuliah demen banget travelling ke West Coast, east coast, naik pesawat sekarang di airport aja udah ribet banget ama securitynya, beneran males deh kalau mau terbang2.

    • Uh iya juga ya? ketakutannya beda aja kali ya? klo aku takut airline nya gag beres landingnya or goncang terus. klo kamu takut dibajak ya? amit2 deh, mudah2an gag pernah lagi terjadi! Tapi jarang pulang indo yah?

  2. Ping-balik: Mimpi Saya = Mimpi Kita? | Nyonya Kecil

  3. Ping-balik: Singapore Holiday | Nyonya Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s