Tren Sosialita

Tadi siang aku dibuat kaget dengan berita yang disodorkan Jelang Siang oleh TransTV. Tidak biasanya acara berita menyodorkan sajian dengan judul: TREN SOSIALITA, memperlihatkan 15-20 wanita berdandan seperti ke pesta, dan riuh berfoto bersama. Mungkin sekilas seperti gerombolan artis sedang arisan bareng di sebuah restoran. Menurut laporan Jelang Siang, kata ‘sosialita’ sendiri dulu maknanya adalah wanita kalangan jet set yang rutin berpartisipasi di acara-acara sosial seperti derma kepada kaum papa. Namun disayangkan sekarang maknanya bergeser jadi kaum ibu-ibu kalangan jet set yang suka berkumpul bersama. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun jadwal mereka sungguh padat tak ubahnya wanita bisnis. Hari ini arisan, sore nanti ke salon, malam ini si Bu ANU ulang tahun dan dinner di hotel B. Begitu kira-kira.

Salah satu sosialita tersebut bersedia diwawancara Trans TV, sebut saja Bu AN ibu dari 3 anak, sebagai ibu rumah tangga dia perlu refreshing dan pergi bersama teman-temannya sekali waktu. Dia mengaku bahwa dia sudah mengantongi ijin suami, asalkan keluarga tetap jadi prioritas utama. Yang mana aku bertanya-tanya, bagaimana bisa sosialita dengan jadwal padat seperti itu, dan pengeluaran yang besar untuk mempercantik diri supaya ga kalah dengan teman-temannya, suaminya oke-oke saja di rumah merawat anak? Suamiku aja baru ditinggal nyalon 3 jam, dititipi anak, mukanya dah manyun kiyun waktu aku pulang.

Lalu ada istilah lain yaitu ‘social climber’, yang mana artinya orang bukan dari kalangan jet-set tapi berupaya bergabung dengan kaum high-end ini. Tentu tak mudah, karena kalangan sosialita tidak begitu saja menerima anggota baru. 

Lucunya kemudian seorang sosiolog ditampilkan, dia berkata bahwa disayangkan jika sosialita-sosialita ini menghabiskan uangnya untuk foya-foya, lebih baik untuk membantu kaum yang membutuhkan. Lalu ditayangkan kondisi perumahan kumuh di Indonesia dan bakcground suara: “…menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin jauh..” Memang sebuah ironi melihat tayangan ini, di satu tempat para ibu-ibu muda nan jelita ini tertawa riuh dan berfoto bersama (bahkan saking hebohnya ada yang naik ke meja), di tempat lain diperlihatkan orang-orang yang tidak mampu, mungkin untuk makan besok aja mikir gimana duitnya. Yang di benakku adalah bagaimana si Bu AN ini bereaksi melihat tayangan liputan arisannya (yang seharusnya prestige karena diliput oleh TV), berubah menjadi sebuah tayangan yang menyudutkan dirinya? Bukankah semua pemirsa menghakimi dirinya saat menonton tayangan tersebut? Apakah dia tidak tahu dari awal konsep tayangan ini, sehingga dengan senang hati mau diwawancara?

Lalu penyiar Jelang Siang kembali menginfokan bahwa bicara sosialita tidak lepas dari fenomena sebuah tas. Yakk apalagi kalo bukan Birkin dan Kelly dari Hermes. Lalu si Bu AN ini kembali diwawancara, kali ini di rumahnya, dia menunjukkan koleksi tas mewahnya. Beberapa Hermes (yang terlihat seperti gres), Balenciaga, dan Chanel. Dia memiliki beberapa tas Hermes, dan lebih dari 20 aksesori Hermes (gelang dst). Ketika ditanya alasannya mengoleksi tas Hermes, dia mengaku bahwa pada awalnya karena ikut teman. Teman-teman satu group memiliki tas ini, jadi dia ingin memiliki juga. Lalu keranjingan dan membeli beberapa. Padahal dia mengaku bahwa harganya terlalu mahal dan sebenarnya tidak sepadan dengan kualitasnya, hanya menang merk. Kulitnya, bahannya, hampir sama dengan tas-tas lain dengan harga di bawahnya. Tau kan, Hermes harganya bisa ratusan juta rupiah? Blom lagi yang limited edition. Tapi aku bukan penggemar Hermes, kalo mau lebih tau tentang tas ini bisa baca buku Hermes Temptation karangan Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang baru saja meluncur bulan ini. *promogratis*

Aku salut dengan salah seorang artis kita. Dia pernah berkata: “Aku ngga perna beli berlian ato tas bermerk. Bayangkan aja, harga satu tas Rp 60 juta. Itu ngga penting buat aku. Itu bisa buat beasiswa beberapa anak setahun. Nggak make sense banget.” (Cinta Laura, Jawapos 20 Juni 2011). Dia menyumbangkan penghasilannya ke yayasan ibunya, yang kegiatannya membangun sekolah-sekolah rusak, total ada 11 sekolah yang sudah dibangun.

Pernah nonton Machine Gun Preacher? Disitu seorang evangelist yang berjuang mati-matian membangun tempat perlindungan untuk anak-anak di Sudan. Dia menjual bisnisnya, menguras smua tabungannya, demi mendanai camp yang dibangunnya di Sudan. Di satu scene, dia marah besar kepada putrinya ketika putrinya meminta ijin untuk patungan dengan teman-temannya menyewa limousin untuk acara prom night nya. “Anak-anak di Sudan itu membutuhkan uang, dan kamu mau menghamburkannya untuk sebuah limo?”, bentak ayahnya.

Menurutku sah-sah saja orang mau beli tas merk, sepatu puluhan juta, mobil mewah, kalo memang orang itu sangat luber kekayaannya sampai tidak tahu lagi mau dipakai apa. Tapi aku menyayangkan banyak orang terutama generasi muda, giat menabung dan berhemat dengan tujuan untuk beli tas puluhan juta. Orang-orang ini membeli tas hanya untuk menunjukkan status sosialnya, menaikkan derajatnya, dan untuk memuaskan gengsinya di kalangan teman-temannya. Singkat kata: untuk pamer.

Kata-kata Cinta Laura dan si Evangelist tadi membuatku merenung, buat apa sih kita menggelontorkan duit 30 juta untuk sebuah tas? Masih banyak anak-anak di Ethiopia yang makan saja tidak bisa. Kita ini sudah beruntung punya rumah, bisa makan dan hidup secara layak. Tulisan ini sekaligus untuk mengingatkan aku, saat nanti aku kaya raya luber kemana-mana *ngarepdotcom*, hendaknya aku ingat bahwa diluar sana masih banyak anak yang kurang beruntung. Use your money wisely. We are blessed to bless.

39 thoughts on “Tren Sosialita

  1. Tep, benernya ya, kalo yang bener-bener kaya itu, justru nggak ikut kegiatan sosialita kayak gitu. Orang yang bener-bener kaya dan sosial itu juga banyak. Kalau misalnya gue jadi kaya banget, gak masalah juga kok beli barang-barang mahal, sometimes we need self indulgence sekali2, tapi ya harus diimbangi juga dengan donasi kita ke masyarakat, bisa dalam bentuk uang, kegiatan, ataupun sumbangsih ilmu. Justru yang kaya banget tapi tak terekspose itu, JAUH lebih nikmat, apalagi kalau di belakang kita bisa memberi, tanpa perlu dikotori dengan niat untuk pameran. Ya gak?

    • Iya bener banged. Ada orang-orang kaya yang sederhana, punya barang merk juga ga koar-koar, dipakai untuk kepuasan pribadi, bukan karena ikut-ikutan teman atau untuk pamer. Orang-orang yang gak di expose ini emang orang yang beneran kaya dan tidak perlu membuktikan dirinya. Tapi aku mengelus dada, ada orang-orang yang sebenernya tidak sekaya itu, tapi maksain dirinya untuk beli tas Hermes. Apalagi banyak juga yang beli palsunya. Liat aja tuh di majalah-majalah, sosialita yang pake Hermes tidak terhitung jumlahnya. Pertanyaanku: Kenapa mereka pake? Senang modelnya ato ikut-ikutan biar gengsi?
      Mudah-mudahan ya, negara kita terutama di ibukota, tidak makin matre dan hedonis, lebih sosial dan belas kasih.
      Dannn smoga orang-orang seperti kamu dan saya yang jadi kaya *teteb ngarep* hahaha

    • Wah kmrennya aku juga baca di koran tentang ortu2 yang bayi tabung. Katanya walopun sakit bgt, tp dia rela ngulang sampe 3x (sehingga anaknya 6: anak pertama, lalu kembar kedua dan ketiga, yg trakhir kembar 3 (ke-4,5, dan 6). Smuanya dari bayi tabung. Mudah2an yang terbaik buat Mbak ya🙂

  2. AH, gw ada temen yang boooo berusaha jadi social climber..tapi karena ga kesampean gabung sama sosialitta beneran..dia nyiptain dunia sosialita dia sendiri..pergi ngafe di club2 prestige di SG yang harus booking dll..tapi pas ngundang gw karena buka meja, ga berani buka botol karena sayang kalo diminum rame2..*roll eyes*

    Trus kalo uda janjian mo brunch ato dinner ma dia dititipin pesen ” dress up ya ” dan sebelon pesen makanan, nunggu makanan, makan sampe selese makan..POTO POTO melulu..langsung upload di fb!

    dan pernah sekali gw dateng ke lunch sama dia and other girl..gw baru dari salon potong rambut tapi gw ga dandan..malemnya dia sms gw ” nek, laen kali dandan dong..sama embak gw aja kalah loe ”

    Kua..kua..

    • hahaha lucu amat temen lu ya el, gw bisa bayangin deh. tapi ada orang-orang kaya gini dkt elu, pastinya bikin hidup lu tambah seru donk. ada yang bisa dicritain hihihi😀

  3. Hihihi….serem banget. Saya lsg ganti channel tv mbak kl udah acara begituan. Miris dengernya apalagi liat. Sementara disekitar kita masih banyak yang susah. Ikut filosofi padi lebih damai.. i agree with Leony…

    • hehe iya ya, memang klo nonton acara lifestyle ama acara berita, kok beda banged critanya. Tapi menarik lho, fenomena sosialita kaya gini may be only happen in indonesia (correct me if i’m wrong). Soalnya klo diluar negri, setauku ga ada sosialita2 yang terkenal, sering masuk majalah, ato televisi. Yang terkenal ya cuman artis2nya. Spertinya masyarakat Indonesia ini mudah terbawa arus trend (sperti korean boyband yg menjamur, tas hermes, dll) dan cenderung konsumerisme, betul ga?

  4. G setuju dengan apa yang Leony bilang. Sah-sah aja sih mereka hura-hura dan beli-beli aneka barang mewah seperti itu, toh duit-duit mereka sendiri. Suaminya aja kaga protes, ya ga?
    Tapi kalo dipikir-pikir, sedih banget ya, cara mereka menikmati hidup hanya dengan cara sepicik itu. Rasanya pusat dan tujuan hidup mereka hanya terletak pada euphoria pesta dan kesempurnaan penampilan. Olalalalala….. Ntar waktu akhir perjalanan, tuh tas hermes juga kaga dibawa. T_T

    • iya bener, kayanya kok semu banged yang dipikirin ya.. masa arti hidup cuman sekedar banding-bandingin kekayaan dan tas branded. Makanya ntar klo gw jadi kaya-kaya bin kaya banged, gw kudu inget tu apa yg perna gw tulis di blog ini. We are blessed to bless others.

    • iya bener, kayanya kok semu banged yang dipikirin ya.. masa arti hidup cuman sekedar banding-bandingin kekayaan dan tas branded. Makanya ntar klo gw jadi kaya-kaya bin kaya banged, gw kudu inget tu apa yg perna gw tulis di blog ini. We are blessed to bless others

  5. ohh itu toh yang dinamakan sosialita ya mbak , sebelumnya gue bingung artinya apaan kalo diliat dari suku katanya “sosial-ita”. it mean, sosial, artinya rasa peduli terhadap sesama, that’s right ? taapi sekarang SOSIALITA kok jadi ajang pamer2 harta yaa, miris -_____-

    • iya nih, gara-gara all those magazines yang isinya sosialita2.. smua orang jadi kepengen jadi sosialita dalam paket yang: menghadiri ajang2 keren + nenteng tas2 keren. Sbenernya si masi ada sosialita beneran yg rasa sosialnya tinggi, tapi kayanya sdikit hehe

      • Sebenernya juga itu hak mereka, untuk menghabiskan uang mereka seperti itu atau dengan cara lain.
        Bagi mereka itu sah sah saja,karena suami juga mengganggap bukan suatu masalah.
        itu juga bagian hidup dri mereka.

        ingat lah,pelajaran agama juga,seseorang yang berjiwa sosial jga tak mw mengatakn dirinya dermawan. Cukup diri sndiri yg tw,
        Dan org yg menilai.

        Mungkin itu adalah bagian hidup dari mereka,tapi ingat lah roda kehidupan itu berjalan.

        Saya punya kisah,dan ini tak jauh dari relasi saya,

        sebut sajalah dia si pak haji
        Orangnya berumur 50 tahunan,
        Tapi usaha tambang batu bara lebih dari 5 tambang, punya rental alat berat banyak, punya juga usaha bunker service. orangnya berpakaian biasa sering pakai kopiah,kadang duduk di depot kopi di pagi hari sama saya dan hanya menggunakan baju muslim,celana bahan,,dan beliau adalah pengusaha yang hanya dibalik layar. . Punya istri dan 2 pria dan 1 anak soleh,keluarga bahagia, tak seperti orang kaya lainnya. Dan juga rajin bersedekah terhadap kaum duafah. Subhannallah melihat keluarga si pak haji,

        Dan istri beliau pun seorang wanita yang luar biasa,sering menghadiri pengajian dan jg dermawan, Bertutur kata sopan,dan tidak pernah memandang struktur sosial dalam pergaulannya.bahkan seorng seperti beliau tidak pernah memakai perhiasan berlebihan.

        Bahkan bu haji pun pernah berkataa,
        Hidup ini terus berputar, awal hidup kami susah,jadi kami terbiasa hidup sederhana, dan waktu pun terus berputar, kalo Allah menghendaki kita miskin dalam sedetik, kita jg tidak bisa apa2. Dan disitulah apa kata orang??? Apa mungkin prihatin atau mensyukuri kejadian yang menimpa.

        Bagi dia,sosialita didaerah kami adalah orang kaya tanggung(pas2an)

        sosialita ditempat kami jarang yang dermawan,hanya branded atau hidup prestise ,tak memperdulikan orang. Tidak seperti apa yang dijelaskan dalam teori bahasa indonesia yang sesungguhnya apa arti dari sosialita.

        Begitu juga anaknya, adalah anak2 yang soleh, tak memandang dalam berteman dan tidak lupa akan kewajiban dia sebagai muslim. dan tak lain adalah pimpinan perusahaan ayahnya.mengapa saya tahu,karena mereka sering bermain dengan adik2 perempuan saya,dan terkadang bila berkunjung kerumah ,mereka tdak lupa salat,
        Aapa yg saya pelajari,
        Mereka tidak pernah menganggap diri mereka sosialita,mereka hanya menganggap mereka orang biasa, dan sama dengan orang lain .dan juga sama2 dinilai sebagai hambanya di mata Allah SWT.

        jadi pikiran gw,hidup terserah lu,lu kaya boleh main ma teman2 lu yang kaya. Tpi giliran miskin belum tentu teman lu yang kaya mw main sama lu, hahahahaah

        Ya sudahlah ,kita sing satu lagu dangdut.

        YANG SEDANG SEDANG SAJA:

        GEHEHEHEH

        WASS.

      • hehehe asik bung😀
        yah bgitulah hidup, saat diatas harus inget ama yang di bawah. jangan slalu menengok ke atas, karena di atas langit masih ada langit. klo ngejar kekayaan juga tidak ada habisnya. baiknya skali-skali melihat kebawah dan mengucap syukur untuk smua yang ada.
        Tapi emang biasanya yang demen show off itu OKB (Orang Kaya Baru), yang masih butuh pembuktian diri “ini lhoo gw mampu tas branded seharga xxx juta”. Klo yang bener-bener kaya sih ga butuh pembuktian diri lagi hehehe. Ya sutra lah, asik-asik juga melihat berbagai orang dan berbagai kepribadiannya. Sometimes it is entertaining😛

      • diatas langit masih ada langit,
        Bersihkan hartamu dengan zakat,bersihkan penyakitmu dengan sedekah.

        Hidup itu semua punya Allah,

        Apa itu sosialita ?? Itu hanyalah sebagai trending kehidupan glamour ala orang kaya.

        mereka itu hanya orang yang suka menghabiskan duit. Sudah takdir Allah mereka lahir dari keluarga kaya. Tapi Allah adil,terus memberi mereka kepuasan dunia akan prestise tapi lihat ujung ke belakang apa yang terjadi ??? Bisa tragis.

        derajat semua manusia sama,tidak ada perbedaan di mata Allah, kekayaan itu hanya titipan. tak mungkin abadi.

        Insya Allah bila kalian rezeki menjadi seorang konglomerat,cari istri yang bener2 mendalami arti hidup,agama dan sosial .

  6. Sore ini baru aja aku liat di majalah misteri apa nama nya aku lupa ada sisipan di covernya “tren hidup sosialita yang jahiliyah”<<ini bener ga nulisnya ya??
    Lalu aku nyari di internet,broswsing dll.Waduh ternyata…

    Ngabisin duit sejuta buat sepasang anting kecil doang aja rasanya aku sampai sekarang nyeselnya minta ampun(err,,,,yeah.Kebodohan masa lalu.Sorry for mama yang rela duit sejutanya abis cuma buat anak ceweknya yang katro ini),tapi kayaknya para ibu ibu sosialita ini nganggap duit sejuta tuh ibarat lima puluh ribu rupiah kali ya :p dunia oh dunia~

    • iya sih, kalo ibu-ibu si menurutku masi mending ya, asal suaminya ga komplen. tapi kadang yg suka branded2 gitu justru anak2 muda, yg blom bisa cari duit, ato dah cari duit tapi harga tas branded yang dibeli = gaji 10 bulan. Ada lo yang sampe makannya ngirit-ngirit (klo perlu mi instan), demi nabung buat beli tas branded idaman. Duilee herann deh

      hihi antingnya kaya gimana? emas? berlian? itu mah wajar klo sejuta

  7. duh maaf ya kalo ga ada yg setuju dengan pendapat saya…
    saya pikir untuk hidup dinegara kita ini menyelamatkan diri sendiri aja dulu kalo merasa hanya kemampuan kita pas2an..
    mungkin pada suatu hari kalo berlebih pada keuangan baru memikirkan yg perlu dibantu…
    dan masalah sosialita… memang kehidupan yang fantastis jauh berbeda dengan kehidupan kita2 yang tabungannya bisa tau nilai besar nominalnya… bagi mereka tas harga xxxjuta itu ga seberapa toh uang direkening tak terbatas nilainya mungkin lupa jumlahnya berapa saking banyaknya…. jangan salah sosialita juga sering mengadakan arisan2 yang dana nya disumbangkan .. tetapi ga semua liputannya ada… mereka rutin mendonasikan uang xxxjuta ke panti2 tanpa bilang2 .. orang2 tidak perlu tau.. masa berbuat baik ingin dipamerkan juga ..!! ga Tanpa berniat menyinggung atau menyindirsiapapun, hari ini dengan sengaja dan sadar, saya ingin menulis tentangSOSIALITA. Ini karena pagi tadi saya baca koran *sebenernya sih dari kemaren- artikel hari ini adalah lanjutan* adaartikel mengenai sosialita yang ada di kota Semarang. Ketika say abaca lagiartikel ini terkait dengan hari Ibu kemaren.

    Membaca kalimat demi kalimat, saya semakin biasapa sih sebenernya sosialita itu? Apakah karena ia kaya? Apakah karena ia punyajabatan tertentu ataukah karena ia berjiwa sosial?? Dan mari kita cari tahubersama.
    Beruntung saya bisa bertanya-tanya pada om Gugelyang usah mengajak saya berselancar kesana kemari mencari tau mengenaisosialita. Mari saya bantu anda semua untuk merangkumnya menjadi satu. Oh,tentu saja ditambah dengan bumbu2 rumpi ala saya tentunya *hehehe* 
    Menurut mas Nurahman Arif di blognya, menuliskanbahwa  Socialita / Sosialita adalah orang-orang kaya harta yangmemang kaya semenjak lahir. Atau karena keturunan. Bisa karena berasal darikeluarga pengusaha, atau bidang yang lainnya. Hal ini pernah diungkapkan olehsalah seorang blogger ternamaDiana Rikasari.
    Adapun kaya itupun relatif ya. Dan baiklah kitasepakati saja bahwa kaya disini adalah orang yang bener-bener cukup bahkanberlebihan. Tidak memikirkan uang, tidak memikirkan utang *ah..kalo yang inisih saya juga ragu, sebab biasanya…catet, biasanya orang kaya/pengusaha itu biasanyajuga punya utang je*
    Nah definisi lain mengenai kaum sosialita adalahmereka yang terlahir kaya dan menggunakan kekayaaanya itu untuk kegitan yangbersifat sosial. Tentu saja kegiatan atau aksi sosial yang sesuai dengan kelasmereka. Macamnya bisa menggadakan penggalangan dana dengan konser music, atauperagaan busana, pesta kebun dan lain sebagainya di hotel berbintang dan dimengundang media pastinya. *eh* 
    Lainlagi  dengan yang ditulis mba Aciet . Iamenuliskan bahwa “ a socialite is aperson who is known to be a part of fashionable society because of his or herregular participation in social activities and fondness for spending asignificant amount of time entertaining and being entertained , which can alsoinvolve their devoting considerable time and resources to public charitableor  philanthropic activities. Socialitesare usually in possession of considerable wealth, inherited or self-made, thatcan sustain their stedy attendance at social functions. “
    Jadi artinyasih sama aja , sosialita itu adalah keluarga / orang yang super kaya dan aktifdalam kegiatan sosial dengan cara mereka tentunya.
    Nah  kalo, dari kamus Males Banget ini, sepertinyakata “sosialita” ini sudah mengalami pergeseran makna. Dulu, sosialita ituartinya orang kaya yang dermawan, yang suka melakukan aktivitas sosial membantuorang lain. Nah tapi kalo sekarang itu, kaum sosialita itu biasanya “aktifsecara sosial” mengadakan kegiatan sosial yang dibalut pesta dan mengundangmedia. Ada niatan membantu juga sih, tapi sangat kecil, lebih banyak kegiatantersebut dilakukan untuk menjaga image mereka .
    Jadi,rangkumannya adalah bahwa sebenernya sosialita itu adalah orang yang emangsudah kayak *karena lahir dari keluarga kaya* yang menggunakan waktu danhartanya untuk melakukan kegiatan sosial. Biasanya kaum sosialita ini *karenakekayannya pula* mampu menggerakan atau mempengaruhi orang lain untuk melakukanhal yang sama. Biasanya kaum sosialita itu punya semacam komunitas atau semacamarisan *yang mungkin juga* pengajian gitu lah.

    Kalo diJakarta sendiri, saya menemukan blog sosialitas dari Jakarta, silahkan bukadisini. Ada beberapa foto dan nama yang tidak asing lagi. Etapi mereka cukupterkenal karena termasuk sosialita di Jakarta.
    Nah kalo yang di Semarang, hmm…sepertinyadari artikel yang saya baca itu mewakili atau layak disebut kaum sosialita jugagak ya? dari kaya-nya….iya *mungkin*, dari sosialnya….iya *mungkin* dari kemampuan untuk menggerakan dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan kegiatan sosial?? …iya *mungkin*
    Lah kok mungkin semua *ngekek sopan* 
    Ah, tapinya sayajuga kenal beberapa orang yang tidak berasal dari keluarga kaya/bangsawan/ pejabat tapi mampu menggerakan dan mempengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Sebut saja misalnya Satoe Atap  , sebuah komunitas yang bertujuan membina anak-anak jalanan dan kaum miskon kota dimana anggotanya adalah para mahasiswa dari berbagai universitas di Semarang. 
    Ada pula Rumah Kenari, tempat dimana sesuatu yang kecil bisa dilakukan namun sangat besar manfaatnya. Bergerak dalam penyaluran buku-buku untuk perpustakaan/rumahbaca yang ada di seluruh Indonesia.  
    Masih banyak lagi lainnya,… #sedekahrombongan milik mas @Saptuari misalnya, atau mas @KarmanMove yang fokus pada korban banjir lahar dingin Merapi misalnya, mba @andhinisimeon yang bergerak untuk berbagi cerita kepada anak-anak di Semarang , dll.

    Itu hanya sebagian kecil komunitas yang ada di Indonesia, bukan dari kalangan kaum sosialita tapi mampu melakukan gerakan-gerakan besar untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Kitapun tak perlu lah harus menyandang predikat “kaum sosialis” untuk membantu orang lain, setuju?? semua hal yang sosialita lakukan terexpose…
    saya tidak membenarkan juga tidak menyalahkan… kalo dipikir2 apa salah menghargai diri kita dengan penampilan yang terbaik !! saya rasa wajar2 aja mereka demikian karena memang mereka berbeda dan ada .. karena saya pikir wanita didunia dan dimanapun termasuk saya suka tampil cantik menawan dan terhormat….!!

    • makasih ya komennya panjang banged hehehe.. sosialita semarang siapa yang ada di koran? nanti coba sy cari korannya😀
      thanks uda mampir ya mbak, salam kenal🙂

  8. tidak berniat menyindir siapapun…
    duh maaf ya kalo ga ada yg setuju dengan pendapat saya…
    saya pikir untuk hidup dinegara kita ini menyelamatkan diri sendiri aja dulu kalo merasa hanya kemampuan kita pas2an..
    mungkin pada suatu hari kalo berlebih pada keuangan baru memikirkan yg perlu dibantu…
    dan masalah sosialita… memang kehidupan yang fantastis jauh berbeda dengan kehidupan kita2 yang tabungannya bisa tau nilai besar nominalnya… bagi mereka tas harga xxxjuta itu ga seberapa toh uang direkening tak terbatas nilainya mungkin lupa jumlahnya berapa saking banyaknya…. jangan salah sosialita juga sering mengadakan arisan2 yang dana nya disumbangkan .. tetapi ga semua liputannya ada… mereka rutin mendonasikan uang xxxjuta ke panti2 tanpa bilang2 .. orang2 tidak perlu tau.. masa berbuat baik ingin dipamerkan juga..menghargai diri kita dengan penampilan menarik rapi membutuhkan biaya… apa salah dengan materi yang berlimpah membeli dan memiliki barang yang diinginkan.. toh yang penting seimbang antara dunia dan akhirat…
    banyak orang berpikir semua orang berpikiran sama dengan semua orang … tentu tidak …
    yang jelas…saya pikir didunia manapun saya termasuk salah satu nya…wanita pasti ingin tampil cantik,menawan terhormat.. tetapi beda menampilkannya ada yang branded ada yg sederhana… hidup adalah pilihan

  9. hiks… aku baru aja mo bikin bag-account alias tabungan khusus untuk membeli tas Cath Kidston. membaca postingan ini aku sampe miris sendiri. bijaksana-kah kalo aku membeli tas sementara diluar sana, orang ada yg bisa hidup 1-2 bulan dengan uang seharga tas yg kuincar tsb.

    eh tapi gpp lah, lawong harga tas-nya juga masih dibawah satu juta kok, hehehe. gak sampe puluhan apalagi ratusan juta.

    *menghibur diri*

  10. Halo..
    Baca post ini jadi inget suami gue pertama kali ke Indo, kita makan di Senayan City, lagi nunggu di Portico (kalo gk salah namanya itu deh) dia kaget liat banyak orang sibuk BBan pdhl lg ngumpul rame-rame, banyak cewe dandan poll depan mall nunggu valet (kita juga nunggu valet sih tp gue gak poll dandan hehe) sementara brp meter dari situ banyak gembel lampu merah.

    Dia nanya sm gue, gimana gue bisa tinggal di negara kyk gitu? #tabok. Dimana banyak org ignorant who living in their tiny bubbles. Ya gue jawab lah gue dari lahir di Jakarta, emang gue bisa pilih mau lahir di negara maju / berkembang / tertinggal?
    Walaupun gue seumur-umur tinggal di Indo, gue juga gk sampe hati kok ngeliat gembel segitu banyak. Alhamdulillah hati gue blom beku, gak perlu kan gue nolong tp koar ke orang banyak. Turning point gue adalah waktu gue sekolah di luar, gue harus struggling sendirian.

    Anyways, suami gue kaget dg keadaan banyak orang Indonesia ‘melihatkan’ kemapanan mereka sementara cuma jarak 10 meter ada gembel dan anak balita yang kepaksa jadi pengemis. He said “How heartless they can be? If everyone spends some money, i think that would be no poverty in your country”
    Halah kalo ngomongin zakat mah ya bisa aja, tapi point kemiskinan kan juga ngaruh ke pemerintahan dimana eyke males ya ngomongin politikus Indonesia.

    Gue sih bisa ngerti kekagetan suami gue, karena dia baru sekali ngeliat. Nah, bedanya dengan yang hidup di Indonesia, mereka udh kebal dg keadaan sekitar karna dikasih liat kemiskinan tiap hari, pergi-pulang kantor lewati gembel buntung, rumah bedeng pinggir kali, ya lama lama udh biasa kali ya ngeliatnya tanpa ngerasa terenyuh. Sempet gue bahas di thread FD masalah beginian, kalo kita bisa online shopping untuk satu barang, tapi kita ngeh gak sih tukang sate lewat depan rumah sendal jepitnya setipis apa karna dia berhemat? Sadar gak sih tukang roti langganan rumah tuh anaknya berapa? Satpam kompleks rumah tuh gajinya berapa, dan cukup gak buat anaknya sekolah?

    Gue rasa gak salah untuk spoil ourselves, tapi harus diimbangi juga dengan kemampuan kita untuk terus mengasah feeling to stay low and empathic. Kalo kita stay humble dan bisa ngerasain kesusahan orang lain, gue percaya hasrat berfoya-foya pun terkontrol kok. Yang malesin itu kalo gue buka fb, temen gue di Jakarta, who are living in their tiny bubbles, acting like westerns who live in developed country. Segala belanja Cartier, hen night dsb dikasih tau orang. Gengges gue liatnya. But in the end, it goes back to one’s personality sih..
    Sebisa gue ya cuma influence sekitar to stay low aja..

    • iya emang bener rasa empati itu kudu diasah. gw ga tinggal di jakarta ya, tapi gw tau sih emang di mall2 macem GI, PI, Senci, cewe-cewenya dandan poll. Bedanya cewe-cewe nge mall di Aussie ama di Jkt: kalo di Aussie pada casual cenderung cuek, banyak yang tank-top, jeans, sandal jepit. Klo di mall Jakarta, cewe-cewenya kaya mau pergi clubbing haehhehe.

      “Gue rasa gak salah untuk spoil ourselves, tapi harus diimbangi juga dengan kemampuan kita untuk terus mengasah feeling to stay low and empathic. Kalo kita stay humble dan bisa ngerasain kesusahan orang lain, gue percaya hasrat berfoya-foya pun terkontrol kok.” — Bener banged!

      Iya klo emang tajir melintir mungkin duit puluhan juta kecil buat mereka. Tapi gw gak abis pikir, kadang ada yang tajirnya pas-pas an, tapi bela-belain beli tas puluhan juta. Biar gak kalah ama temennya si A, si B, si C. Permisalannya: gaji cman 5 juta tapi brani beli tas 70 juta. iye emang nabung dan berhemat sanasini, tapi emangnya apa sih tas itu? Esensi tas kan buat bawa barang. Bukannya buat pamer dan gengsi ama temen-temen. Oh well tapi mungkin emang susah ya klo tinggal di Jakarta, lingkungannya hedonis *menurut gw*. Yang dipikirin fashion terbaru, tas teranyar, padahal emang bener kata suami lu, they live like in tiny buble. Masi banyak yang idup susahh..

      • Hahaha jangankan gaji 5 juta beli tas 70 juta *seems so ngawang-ngawang gitu ya* even misalnya gaji gue 70 juta pun, paling banter ntr gue beli tas ya 5 juta hehehe sayang bener uangnya.
        Tas sepatu bukan investasi, jadi gk perlu spend too much money on that, ya gak sih..

      • Haha ya tergantung tipe orangnya sih. Klo gw emang demen liat saldo di tabungan yang gede. Jadi sesuka-sukanya gw sama tas dan sepatu, gw tetep lebih demen CASH! hahaha. Eits mereka2 yang beli Hermes ngeles bilang itu investasi lo, karna bisa dijual lagi. Tapi gw gak yakin si masa harganya gak turun?? Itu juga blon tentu ada yang mau beli second

  11. sosialita adl org keturunan bangsawan ato nenek kakeknya udh kaya dari sononya..nah mereka mempunyai misi di bidang sosial🙂 makanya di bilang sosialita😀

    org indo sering salah kaprah mengartikannya.masa melinda dee di bilang sosialita?

    lbh jelas nonton revenge di starword

  12. Hidup cuman sekali and life is so short, jadi mesti dinikmatin donk. Boleh lah sesekali atau dua kali dalam hidup kita beli sesuatu yang merk, mahal, bagus dan disukai kita ya. Jadi bukan hanya sekedar ikut ikutan temen aja. Mosok hidup kudu investasi mulu dan nabung mulu, ntar lumutan duitnya di bank donk. Mosok hidup kudu nyumbang mulu ke panti panti. Semua kan ada porsinya. Nggak apa apa kita menikmatin jika uangnya ada dan kita suka barang itu. Dmana pun kita berada, nggak hanya indonesia, memang orang lain menilai siapa kita dan menghormati kita dan mengukur kekayaan kita, melalui merk barang yang kita pakai. Jadi kita terpaksa pamer lah. Kalo kita nggak keren ber merk, kita nggak dianggap di pergaulan dan lingkungan. Itu menyakitkan hati kita. Misal gw pake tas kain biasa ke malls, trus gw liat n nanya harga baju bagus, wah pegawai toko melototin penampilan gw dari atas kebawah, dia anggap gw miskin or maybe maling, trus buang muka ke gw alias nggak meladenin gw. So gw ditinggalin gitu aja, wah sedih lah gw. Baru nanya 5 menit, dia males ladenin gw, karna gw dianggap miskin dan nggak mampu beli baju itu. Nah dilain waktu, gw pake tas ber merk n mahal banget plus pakaian keren, gw nanya nanya harga baju lagi ditempat yang sama, dia lupa kejadian bulan lalu, dia ladenin gw dengan penuh semangat berjam jam, trus nghormatin gw banget, trus gw batal beli, dia manyun hahaha. Bahkan di tempat fitness aja, gw liat banyak social climber atau orang pura pura kaya, yang slalu komen soal baju, pakaian dsb yang gw pakai sampe gw heran. Gw dibeginikan lho ‘eh tas lu jelek amat, pakai yg bagusan donk, biar enak dilihat’. ‘pakaian yang gaya donk,kan mau ke pesta orang nge top nih’, yah dulu gw emang cuek soal merk baju, spatu n tas. Jadi kesannya gw nggak dianggsp banget, sedih lah hati. Skarang gw mulai keren dan ber merk mahal, jadi gw nggak pernah dibegitukan lagi oleh orang ya, hati gw hepi sih. Gw nggak maksud pamer. Tapi gw sengaja menampilkan sesuatu lebih agar orang nggak remehin gw kayak gitu. Sedih lho hati diremehkan gitu. Di malls, gw dianggap kere, dicuekin pas nanya n liat barang. Di pergaulan, gw diwanti wanti mulu disuruh pakai baju bagus dsb, kesannya gw dandan jelek sehari hari. Yah skarang gw pakai merk mahal n keren deh tampilan, nghormatin lawan bicara gw, jadi gw juga dihormatin. Gitu aja. Jadi nggak soal pamer dan sok kaya lho, maksud gw hehehe

    • hahah thanks for komennya😀

      iya gw sih juga slalu dandan keren kok sebisa mungkin kemana aja wakakak. cuman keren versi gw gak harus ber merk. well, yang penting baju gak jadoel, rambut oke, tas dan sepatu oke, kalo enak dilihat kan hati sendiri juga seneng😀 Yah gw sih prinsipnya dandan buat diri gw sendiri ya. Kalo kliatan cantik di cermin kan gw nya hepi dan moodnya bagus. Tapi gw ga gitu peduli pandangan orang lain gimana😛

  13. Kalo kaya beneran, it is ok pake tas mahal and gaya. Beli tas tunai, nggak utang. Wajar jadi sosialita, nikmat lah hidup, memang ada kemampuan ekonominya. Yang nggak asyik adalah sosial climber, atau pengen niru sosialita, padahal nggak kaya. Beli tas mahal, kudu ngutang. Gengsi. Akhirnya utang mencekik leher! Lagak sok kaya, trus nghina orang lain miskin mulu, busyet meremehkan orang lain. Emang yah di perkumpulan, arisan, bahkan saat jalan di malls mewah, kita kudu keren n pake tas merk mahal biar nampak kaya, supaya nggak diremehkan dan nggak dihina hina, dan penjaga toko nggak buang muka dan nggak dianggep sbagai copet. Sedih hati kita kalo sampe dihina. Nggak bisa tidur rasanya hahahaha dongkol aje…tas merk mahal menunjukkan bahwa orang itu kaya dan sanggup beli, gitu?! Hehehehe bahkan naik mobil merk apa, orang pun nanya. Nih ya gw sering denger pertanyaan kayak gini saat ikut kumpul kumpul orang kaya atau sok kaya ya, ‘ suami kerja apa?’, ‘rumah dimana?’, ‘datang kesini naek apa ya?!mobil mana?’. Trus penampilan, tas, sepatu gw diplototin dari atas ke bawah dah, pengen liat merk gw. Hahahaha bener bener ya manusia itu pengen tau apakah gw kaya atau miskin. Jadi kalo gw kaya, dia mau temenan. Kalo gw nggak kaya, trus dimusuhin?! Digossippin?! Pergaulan emang gitu, merk ditanding tanding deh, hayo siapa lebih kaya, yah lebih dihormatin. Gila kan hidup nggak nikmat amat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s