[Movie Review] Sweet 20

Sebetulnya gw ada hutang postingan jalan-jalan. Tapi karena ini lebih fresh, mendingan segera gw tulis dulu sebelom filmnya berhenti tayang di bioskop 😀

Jadi tadi gw movie date dengan beberapa temen cewe. Anak gw titipkan mertua wkwkwk. Gw selalu tertarik nonton film Indo yang kelihatannya bagus, jadi gw pernah nonton: Cek Toko Sebelah, AADC 1 & 2, Critical Eleven, Habibie Ainun, Supernova, dan masih banyak lagi. Pokoknya gw suka nonton film Indo asal bukan film horror 😛

Tadi gw nonton Sweet 20. Film ini remake dari film aslinya Korea Selatan, sudah di remake di berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, China, dan sekarang Indonesia. Judul aslinya di Korea adalah Miss Granny.

Pemain-pemainnya: Tatjana Saphira, Morgan Oey, Kevin Julio, dan masih banyak lagi.

Kisahnya seputar seorang nenek berumur 70 tahun bernama Fatma, yang sifatnya sulit dan menyulitkan menantunya dan membuat seorang cucunya juga tidak suka dengannya. Akhirnya mereka mulai mempertimbangkan untuk menitipkan Fatma di panti jompo, Fatma sedih dan berjalan-jalan diluar. Tak sengaja dia melihat sebuah studio foto, lalu masuklah dia dan berpikir untuk foto diri selagi dia belum terlalu tua, toh kelak fotonya bisa untuk dipajang di peti matinya. Tiba-tiba terjadilah keajaiban, Fatma kembali menjadi Fatma umur 20!! Cerita semakin rumit ketika Fatma yang cantik ini terjebak dalam cinta 3 lelaki, yang satu produser musik muda yang sukses dan tampan, yang satu cucunya sendiri, dan yang satunya adalah lelaki yang sudah mencintai dia bertahun-tahun.

Sekian spoilernya, selanjutnya harus nonton sendiri ya!!

Kesan gw:

  • Gw suka plotnya yang menarik, out of the box (begitulah tipikal film Korea, daya imajinasinya tinggi dan ide ceritanya ada-ada aja), gw ga bisa menebak endingnya. Bahkan gw cukup menikmati filmnya tanpa ingin menebak endingnya seperti apa.
  • Akting Fatma tua dan muda menurut gw sangat bagus. Akting pemain lain juga cukup baik. Hanya kadang gw berasa dialognya terlalu bahasa baku. Ayolah, kata-kata: “Aku mencintaimu” itu sepertinya ga lazim diucapkan kecuali di buku atau novel terjemahan. Mendingan: “aku cinta sama kamu” atau “aku sayang sama kamu”. Ini sering gw temukan di banyak film Indo, bahwa agak aneh mendengar aktor aktris ini bicara dalam bahasa Indonesia baku, yang pada kenyataannya kata-kata seperti itu jarang digunakan sehari-hari.
  • Gw suka lagu-lagunya. Meskipun lagu jadul, tapi ternyata enak didengar dan asyik juga.
  • Gw suka cerita filmnya itu nyambung dengan realitas kehidupan kita, yaitu melihat hubungan mertua dan menantu. Kalau selama ini kita sering melihat kisah menantu tertindas, kali ini kita bisa melihat dari sudut pandang yang lain, yaitu si mertua.
  • Filmnya lucu dan bikin gw ketawa-ketawa sepanjang film
  • Tapi ada bagian sedihnya, dimana gw akhirnya meneteskan air mata wkwkwk… (entah kenapa ya sejak gw jadi mama, gw mellow banget klo liat film yang angkat tema ibu-anak, bapak-anak)
  • Film ini menawarkan paket komplit: ada lucunya, ada mengharukannya, dan ada meaningnya. Ditambah wajah imut Tatyana 😀
  • Gw kurang suka dengan model rambut Fatma muda, agak aneh menurut gw wkwkwkk..

Sebenernya ya, gw nonton film ini jadi keinget sama emak gw lho.. Mak gw nih mirip ama si nenek Fatma, dari mulai ditinggal mati suaminya waktu umur 30an, membesarkan dua anak cowok seorang diri sampe semuanya bisa kuliah, sifat sulitnya, dll yang pernah gw tulis disini.. Oyah dan mak gw juga suka nyanyi. So I can relate to this wkwkwk. She’s 92 now.

Overall filmnya sangat recommended untuk ditonton!! Ayo buruan sebelum filmnya abiss di bioskop 😀 😀

Iklan

Cinderella Cinderella!

Siapa aja yang udah nonton, angkat tangan? *angkat tangan* hahaha

Tadi gw nonton ama misua dan Wesley. Sebenernya gw sih pengennya ngedate, pan sudah berbulan-bulan ga perna ngedate beneran (ke superindo ato ke apotek is not counted!). Tapi belakangan Wesley ni lagi lengket sama kita, gamau ditinggal gw atau papanya, maunya ikuttt kemana aja. Tumben banged, padaal dulu kalo mau diajak pegi suka gamau. Jadi gw tanyain dia, nti malem papa mama mau pergi nonton Cinderella, kamu mau ikut ga? Meski pertamanya doi aga-aga gimana gitu karena tau Cinderella itu = film Princess = kesukaannya cewek. Tapi karena doi ANTI ditinggal, jadi doi mau ikut nonton Cinderella. Untung film yang pengen gw tonton emang Cinderella ya, kalo American Sniper gimana coba, masa dia ngotot juga minta ikut? 😛

Oke oke, trus gimana ceritanya? Overall gw suka dan enjoy sepanjang filmnya. Gw suka peran ibu tiri nya itu, lebih membumi dan dibuat reasonable. Emang orang kan bukan jahat dari lahir ya, pasti ada sebab-sebabnya yang bikin dia lama-lama jadi bertindak jahat. Akting pemain-pemainnya bagus semua. Dan favorit scene gw adalah waktu Prince ama Cinderella lagi first dance *pengen kasi emo LOVE banyak-banyakk*. Cumaa.. tadinya gw masi ngarep unexpected twist di akhir cerita (misal ibu tirinya jadi baek ato apa gitu), dan ternyata did not happen, storynya ngikutin cerita klasik Disney. Tapi tetep gw suka filmnya dan mau kalo disuruh nonton lagi (di HBO ato dvd nya hahaha).

Sepanjang film Wesley anteng, sambil makan roti, dan sekali ke WC ama papanya. Gw juga heran apa dia ngerti ya, kan belom bisa baca text nya, tapi doi anteng-anteng aja sepanjang film gapernah nanya apa-apa ke kita. Padahal kalo di rumah nonton TV suka ribut banged “Mah liat itu yang jahat blablabla, liattt MAHHH! kenapa? kenapa kok gitu??” Untung gak terjadi selama di dalam bioskop tadi, hihihi.

Selese nonton kita sekalian dinner (kita nonton jam 5 sore) di mall situ.

Misua: “Gimana menurutmu filmnya?”
Gw: “Baguusss!”
Misua: (ketawa) “Tadi pas nonton aku liatin kamu, kamu lagi begini (peragain nangkupin dua tangan dibawah dagu) sambil mata berbinar-binar liatin Pangeran ama Cinderella.”
Gw: “Biarrrinn.. Hmm emang menurut kamu bagus ga filmnya?”
Misua: “Aku merinding tadi.”
Gw: “Hah? Kenapa??”
Misua: “Filmnya terlalu cheesy, aku jadi merinding.”
Gw: “Yeeee!!”

Apa emang cuma cewe-cewe yang bisa menikmati film romantis ala dongeng seperti Cinderella ini ya? Gw bilang ke misua, kalo cewe-cewe termasuk gw, dari kecil kan makanannya film-film Princess, dari Beauty and the Beast, Sleeping  Beauty, Cinderella, Little Mermaid. Semuanya itu storyline nya gadis biasa-biasa yang happen to meet Prince, marry him, trus happily ever after. Jadi kalo banyak  cewek berkhayal pengen dapet prince suatu hari nanti, ya gara-gara film-film Disney yang ditonton semasa kecil ini. Nah makanya dulu banyak yang ngarep pengen merit sama Prince William, trus makanya Kate Middleton dianggap Cinderella modern karena doi rakyat biasa bukan keturunan bangsawan tapi dinikahi Pangeran.

Kalo gw suka film ini karena dibikin lebih reasonable, misalnya Prince nya uda ketemu sama Cinderella waktu di hutan, jadi bukan pertama ketemu di pesta dansa dan langsung jatuh cinta. Lebih ada prosesnya gitu..

Pulang ke rumah, siap-siapin anak-anak tidur. Setelah keduanya bobo, kita nyetel TV dan rupanya Blood Diamond lagi maen. Dulu banged gw sudah pernah nonton film ini tapi udah agak-agak lupa ceritanya. Yang maen Leonardo Dicaprio, yang jadi penyalur gelap berlian dari Afrika. Ceritanya konflik perang sodara antara penduduk dan pemberontak, dimana banyak anak-anak kecil yang diculik dari keluarganya, dididik oleh pemberontak untuk jadi manusia yang dingin dan tidak segan-segan membunuh sodara-sodaranya. Sepanjang film banyak kejadian yang bikin miris hati, banyak anak-anak yang jadi korban. Dan di akhir film ada tertulis: “There are still 200,000 child soldiers in Africa”. Perdagangan ilegal berlian ini menimbulkan banyak pertumpahan darah dan perbudakan anak-anak, sementara di Eropa berlian ini dijadikan cincin yang dibeli pria-pria untuk melamar kekasihnya. Ironis bukan? Kalau saja mereka tau dari mana dan berapa banyak darah tertumpah untuk sebuah berlian..

Gw serasa abis nonton dongeng fantasi indah, trus dihadapkan realitas kejam penderitaan anak-anak di Afrika. Kalo liat yang begitu, rasanya problem kita jadi ga ada apa-apanya lagi. Jadi malu kalo banyak mengeluh dalam hidup ini, di luar sana ada yang masalahnya tiap hari antara hidup atau mati (karena perang). Gw lirik misua yang nampak serius nonton Blood Diamond (doi juga sama uda perna nonton).

Gw: “Kamu lebih suka film ini ya daripada Cinderella?”
Misua: “Oh jelasss!”

Haehehehe apakah semua cewe emang suka dongeng dan semua cowo senang realitas (yang kadang kejam)???

Btw misua gw juga penggemar Walking Dead lho, gw sih ga ngikutin karena gw ga suka film serem ato film sedih 😛

Yang udah nonton Cinderella, gimana menurut kamu?

[Review] Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Ngapain anniv kemaren?

Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak lahiran James (1 tahun 2 bulan yang lalu), gw pergi menginjakkan kaki ke bioskop lagi! #PENTING. Sebenernya dah dari kapan ari sejak gw liat trailernya Supernova, gw uda nunggu-nunggu filmnya maen. Beberapa hari lalu pas filmnya mulai tayang di bioskop, gw sempet kesana mau beli tiket tapi urung karena antreannya sangat panjang. Di XXI sini, 4 cinema antreannya 1 jalur aja, jadi kebayang panjangnya kan, filmnya bakal keburu maen sebelom gw nyampe ke depan konter. Lalu pas anniv 18 des kemaren, instead of makan2 dinner, gw ngajakin misua nonton aja. Gw tau misua sebenernya aga2 gimanaa gitu klo nontonnya film Indo (baca: pesimistis filmnya bagus), tapi demi istri tercinta ya akhirnya doi mau-mau aja. Anniv gitu lho, pantang membuat istri kurang senang, ya gak hahaha.

Gw pengen nonton Supernova karena gw dulu baca novelnya Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Meski menurut gw novelnya agak berat dan lebih cocok disebut ‘sastra modern’ ketimbang ‘novel’, tapi menurut gw karya Dee ini diluar ekspektasi pembaca waktu itu. Bener-bener karya yang fresh, yang belom pernah ada, yang memadukan science fiction dengan cerita roman. Kalimat-kalimatnya puitis dan sangat indah. Pokoknya gw jatuh cinta sama ini novel. Sejak itu gw ngikutin karya-karyanya Dee, termasuk favorit gw: Perahu Kertas (karya Dee yang paling ‘ringan’ dicerna dan manis). Menurut gw sejak Supernova pertama ini terbit, barulah banyak buku-buku sejenis dari penulis Indonesia bermunculan, bukannya niru sih, tapi maksud gw mulai banyak buku-buku yang anti-mainstream (mainstream tu misalnya chicklit dan teenlit).

EH cukuplah cerita soal novelnya, filmnya gimana? Hmmm.. memang gw tertarik nonton gara-gara liat trailernya juga:

Gimana? Tertarik ga?? hahaha

:::REVIEW:::

Cast:

Herjunot Ali – Ferre
Raline Shah – Rana
Paula Verhoeven – Diva
Fedi Nuril – Arwin
Arifin Putra – Ruben
Hamish Daud – Dimas

Gw ga mau spoiler ya, karena gw sendiri suka liat misua gw slama nonton ga ngerti ni film arah endingnya kemana hehehe. Gw cuma ingin menyampaikan plus minusnya aja. Jadi film ini menurut gw:

Plus:
+ Sinematografinya keren, pokoknya ada kemajuan lah dalam perfilman Indonesia, tiap scene diambil cantik
+ Backsoundnya bagus, lagu-lagunya enak didengar dan cocok dengan ceritanya
+ Tempatnya keren-keren, terutama rumah si Ferre
+ Animasi / effectnya lumayan bagus

Minus:
– Menurut gw aktingnya Diva jelek banged, kaku dan dialognya datar.. Kalo gw bilang yang bagus aktingnya si Ferre dan 2 gay itu, selebihnya gw merasa kurang.
– Menurut gw yang jadi Ferre, mestinya lebih keren klo cowo berbadan bidang. Maklum gw ga suka tipikal cowo kerempeng, disini yang jadi Ferre dan Arwin dua2nya kerempeng. Gw bayangin mungkin Joe Taslim ato Nicholas Saputra cocok jadi Ferre, dan Reza Rahardian cocok jadi Arwin. Hmm menurut misua sih Junot dan Nuril dipilih karena dua2nya tinggi, untuk ngimbangin Raline Shah (yang ternyata tinggiiii bok).
– Setengah jam terakhir film menurut gw mengada-ngada. Ada bagian-bagian yang ga ada di buku tapi ada di film. Seharusnya pas setengah jam terakhir itu dipangkas dan dibikin tamat, akan lebih bagus 😛
– Dialognya terlalu persis dengan di buku, lengkap dengan istilah-istilah kimianya. Jadi agak aneh didengar. Kurang membumi.
– Ada bagian-bagian yang mestinya bisa dipotong tapi ga dipotong dan bikin scenenya jadi kurang menggigit dan kurang bermakna.

Ya banyak kritik yang bisa gw tulis disini, tapi gw tetep mendukung temen-temen untuk nonton film ini. Karena dari segi sinematografi, film ini beda dari film-film Indonesia kebanyakan. Tiap scene dibalut cantik, dialognya (meski kadang membingungkan) puitis dan penuh makna, dan ada moral storynya menurut gw seperti: “kita ga bisa menilai sesuatu hitam dan putih”, lalu buat yang ga baca novelnya seperti misua gw, film ini ga bisa ditebak endingnya. Oh ya dan sound effectnya menurut gw bagus 🙂 uda macem film sci-fi gitu deh.

Silakan ditonton ya mumpung filmnya masi maen di bioskop 😀

 

 

Notting Hill the Movie

Tadi malam ga sengaja pas nyetel TV ada NOTTING HILL, film taon 1999 dibintangi Julia Robert dan Hugh Grant. Meski film lama, gw berulangkali selalu nontonnya telat mulai tengah-tengah. Baru kali ini start nonton dari awal. Dan sukaaaaa banged sama endingnya film ini. Terutama sejak scoring lagu “SHE” diputar. Ga tahan untuk gak taro disini 😀 Enjoy the last 6 minutes of this movie’s ending yaa

PS: Ada yang tau artinya “daft prick” ga ya? Hugh Grant said this on the movie and make everyone laugh, tapi gw translate di gugle hasilnya: tusukan gila. Hmm anyone tell me pls?

Madre the Movie

Tadi siang gw n temen gw (yang ketauan dari instagramnya kalo sama kaya gw, pembaca novel-novelnya mba Dewi Lestari), memutuskan buat nonton bareng Madre. Ini aga ‘tidak biasanya’. Pertama Madre itu di semarang cuma dan hanya main di Citra bioskop, Citraland mall. Yang mana yah.. rata-rata temen-temen kita nonton di XXI Paragon, gak pernah di Citra. Note: biasanya Citra muter pilem-pilem Indo, dari horor komedi dll, tapi jarang muter film luar. Kalo gw sih masih kadang-kadang nonton di Citra tiap ada film Indo yang menurut gw bagus. Last time gw nonton di Citra itu nonton Perahu Kertas 1 dan 2 ama misua. Tapi temen gw ini, Bebe, nonton trakhir di Citra apaan coba? Ada Apa Dengan Cinta lohh.. ckckck jaman kapan itu?

Yang kedua, gw sama Bebe meski rajin ber bbm ria dan tinggal sekota, tapi trakhir kita bener-bener pergi bareng mungkin.. 3-5 taon lalu? Maklumlah dia dokter, punya anak n suami. Gw sendiri juga sibuk, ahahah blame the blackberry, it feels close without meet the actual person. Lagian semarang kota kecil, meski ga pernah janjian ketemuan, tapi kita selalu ketemu accidentally dimana-mana. Restoran, kawinan teman, dll. Nah karna kmaren ari gw liat di instagramnya doi baca buku Madre, so gw ajaklah doi nonton film nya.

Yang ketiga, 10 menit sebelom kita mau berangkat, tiba-tiba ujan dueressss banged. Pake gludug-gludug petir lagi. Gw pikir ini jadi ga yah nontonnya? Tapi ternyata kita tetep jadi pergi lohhh. Walau badai menghadang, kita tetep keukeuh mau nonton Madre hahaha.

Eh gw mau review aja kok prolognya panjang bener ya..

madre

Jadi ceritanya sedikit diimprovisasi dari bukunya, maklum karena ini hanya sepotong cerpen dari buku Madre, jadi kurang panjang kalo dibikin film.

Ceritanya ada seorang pemuda bernama Tansen, yang suatu hari terima warisan dari kakeknya yang baru meninggal. Tapi doi sebenernya ga kenal kakeknya itu. Doi bahkan tidak tahu kalo dia punya famili, mendadak dalam sehari sejarah hidupnya berubah. Separuh darahnya keturunan Tionghoa dan separuh India. Lalu warisannya itu adalah sebuah biang roti bernama Madre. Walaupun ini keliatan seperti ragi biasa, tapi pak Hadi, mantan pekerja di Tan De Bakker benar-benar memperlakukan Madre dengan khidmat layaknya manusia.

Tansen seorang surfer yang berjiwa bebas, iseng menuliskan pengalaman hidupnya di sebuah blog miliknya. Lalu seorang pembaca blog nya bernama Mei sangat tertarik dengan adonan biang yang diceritakan Tansen. Ia mengontak Tansen untuk membeli adonan biang tersebut tapi Tansen menolaknya. Dari situlah bermula pertemuan Tansen dan Mei yang intens, pada mulanya Mei tertarik pada adonan biang itu, namun lambat laun tumbuh perasaan yang lain di hati keduanya. Mereka berdua, dibantu para mantan pekerja Tan De Bakker menghidupkan kembali toko roti tersebut.

Cerita bergulir sampai klimaks. Perusahaan Fairy Bread yang dimiliki keluarga Mei, menekan Tansen untuk menerima manajemen baru di Tan De Bakker, atau menjualnya sekalian. Saat itu juga Tansen mengetahui bahwa Mei sudah punya tunangan. Tansen sangat terpukul dan pergi mengasingkan diri.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Apakah Tan De Bakker tutup? Akankah Tansen kembali dari pengasingan dan menemui Mei? Akankah mereka bersama?

Haahaha no spoilerrr… 😀 Silakan nonton ya, masih main di bioskop.

Komen gw setelah nonton film ini, gw lumayan enjoy nontonnya. Gw akui secara visual cukup memanjakan mata, jalanan yang tertata apik di Bandung (kalo tidak salah Jalan Braga). Tema kota lama, atau vintage nya dapet banged. Belum syuting adegan yang di Bali, wow kliatan cakep banged pemandangannya waktu si Tansen dan Mei di tepi tebing dengan latar bulan dan sejuta bintang. Scoring lagu-lagunya juga bagus, lawas dan vintage gitu. Tapi gw akui yang membuat mata gw fresh dari awal sampe akhir adalah si Mei (Laura Basuki), dengan kulitnya yang putih dan badannya yang tinggi menjulang, baju apapun yang dipake dia kliatan bagus smua! Gw kagum sama fashion stylist yang nyiapin wardrobe buat Laura Basuki, baju-baju dia cantik-cantik dan vintage look bangeddd. Tas-tas yang dipake dia juga ga kalah keren (LV, Hermes, ..) . Dan akting dia juga okee, natural gak berlebihan, PAS.

Kalo si Tansen (Vino G Bastian) aktingnya juga oke sih, tapi knapa yah, mungkin not my type of guy ya (sorry Vin), apalagi dari awal sampe akhir film doi berambut gimbal dan kulitnya tanned gitu. Okeey nothing personal dehhhh hauhauha tapi tetep yaa.. gw lbi suka tokoh cowo yang rapi jali donk wakakak.

Overall gw kasih nilai 7,5 deh buat film ini 🙂 🙂 Menghibur, lucu, romantis, pas.

Ini behind the scene nya: (kalo mau tau yang gw maksud: scoring lagu nya enak-enak)

http://www.muvila.com/video/special-madre-behind-scene-laura-basuki

http://www.muvila.com/video/madre-movie-behind-scene-vino-g-bastian

 

Kisah Oei Hui Lan

Beberapa hari lalu aku baca buku Oei Hui Lan tulisan dari dua bersaudara Agnes – Danovar. Bukunya gak tebel dan based on true story. Very recommended reading and I finished it in a day 🙂

Oei Hui Lan adalah putri kesayangan raja gula dari Semarang Oei Tiong Ham, yang juga orang paling kaya se Asia Tenggara skitar jaman sebelum kemerdekaan. Sebagai putri konglomerat pada masa itu, dia bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Rumahnya di Semarang besar berhektar-hektar, seperti istana, dan punya taman yang besar, bahkan kebun binatang sendiri dalam tamannya. Oei Hui Lan adalah putri kedua dari istri pertama Oei Tiong Ham. Karena istri pertamanya tidak bisa memberikan anak lelaki, maka Oei Tiong Ham mengawini beberapa wanita lain. Sepanjang hidupnya ia memiliki sekitar 8 istri dan 42 anak (bisa lebih). Tapi Oei Hui Lan ini paling disayang oleh ayahnya, tidak ada keinginannya yang tidak dipenuhi. Bahkan saking sayangnya, kelak Oei Tiong Ham ini ‘hanya’ mewariskan 12 juta dollar untuk istri pertama, 1 juta dollar untuk putri pertama (kakak Oei Hui Lan), dan 15 juta dollar untuk Oei Hui Lan. Pada masa itu warisan sebesar itu tentu sangat sangat luar biasa.

Oei Hui Lan ini kemudian menikah dengan diplomat China Wellington Koo. Walaupun suaminya tidak kaya raya, namun status dan kedudukannya membuat Oei Hui Lan jadi sangat terkenal. Dia bertemu dengan berbagai orang yang punya kedudukan, seperti Ratu Inggris dan Putri Alice dari Monaco. Bahkan ia menjalin persahabatan dengan banyak orang-orang penting di dunia. Semasa hidupnya Oei Hui Lan banyak berpindah tempat tinggal, dari Semarang – London – Paris – Washington –  Beijing mengikuti dinas suaminya. Dan setiap dia pindah dia selalu memugar tempat tinggal dinasnya menjadi istana yang indah. Bahkan di beberapa tempat seperti Beijing, dia membeli istana sendiri!

Buku ini bagus sekali karena dari sisi pandang seorang yang benar-benar kaya (sungguh baru tau apa artinya kaya-raya-gak-ktulungan ini setelah melihat kisah hidupnya), namun di akhir hidupnya ia menyatakan bahwa uang bukanlah segalanya. Justru uang membuat keluarganya hancur dan saling memperebutkan warisan.

Komentar ku setelah baca buku ini: bener-bener deh baru tau ada orang kaya yang beli rumah sperti beli henpon, beli dimana-mana, stiap beli bukan sekedar rumah 600 meter tapi sebesar istana. Dan keren juga ternyata ada orang terkaya seAsia Tenggara yang rumahnya di Semarang. Sampai sekarang rumah ini masih ada, difungsikan sebagai tempat kursus bahasa Inggris dan hall tempat resepsi pernikahan. Namanya Bernic Castle, kadang-kadang aku dapet undangan kawinan disitu 🙂 Baru tau ternyata menyimpan banyak sejarah!

Nih foto penampakan Bernic Castle dari brosurnya, rumah Oei Tiong Ham sekarang.. 🙂

Topeng Kaca – Akhirnya!

Sodara-sodara yang tercintah, betapa bahagianya aku waktu kmaren iseng-iseng lewat bagian komik (serius uda bertaon-taon aku ga nongkrong di bagian komik dikarenakan malu usia – apalagi bawa unyil dan susternya), tiba-tiba mataku sekilas menangkap pemandangan ini:

Dann waktu aku liat baliknya dan baca sinopsisnya, this is really new story! Bukan edisi cetak ulang seperti yang Topeng Kaca Deluxe. Berita buruknya adalah aku ktinggalan beberapa cerita sebelum edisi ini. Akhirnya stelah search di internet bisa juga baca edisi sebelomnya yaitu “Dua Akoya” 1-2.

Sedikit nostalgia, dulu ini komik favoritku semasa SMP-SMA. Sedihhh banged deh waktu balik dari liburan kuliah, menemukan 40an komik Topeng Kacaku uda dijual ke tukang loak ama mamih T_T Katanya menuh-menuhin lemari. Aduhh Mamihh ini harta berharga nih, komik terbagus versi teph *jambakjambakrambutsendiri*.

Komik ini sempet berhenti terbit, kadang terbit satu buku 2-3 taon skali. Lalu pas bagian seru mala diputus lalu bersambung! Dan eyke harus nunggu 3-4 taon lagi baru terbit. Aku rasa ada ya 10 taonan nungguin ni komik ga tamat-tamat juga. Sempet pikir apa pengarangnya jangan-jangan udah passed away ya, sampe ga ada lanjutannya lama banged. Tapi asli, setelah baca yang edisi Bersatunya Dua Jiwa, penggemar-penggemar pastinya gemesss dan puasss karna di edisi ini, akhirnya! akhirnya! akhirnya! Masumi dan Maya saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Owh kebayang gak si, dari dulu dua orang ini saling suka, tapi adaaa aja yang bikin mereka ngumpetin rasa satu sama laen. Pokoknya yang baca jadi gemes bin penasaran bin terbawa emosi. Hehehe no spoiler ya, beli aja sendiri di Gramedia buat para penggemar Topeng Kaca.

Hayoo brapa banyak yang pernah baca komik ini?

Jam stenga satu nih. Bobok dulu deh, bsok pesawat pagi-pagi ke jakarta, Oahhhmmm! Have a nice Sunday 🙂