24 Bulan Menyusuimu

Masih kuingat hari pertama melihatmu, begitu mungil dan rentan. Saat pertama belajar menyusuimu, Mama bener-bener gatau caranya. Suster di rumah sakit mengajar dengan setengah hati, Oma dan Emak mu juga tidak pernah memberikan ASI. Mama having no clue saat itu, tidak tahu harus belajar kepada siapa. Tapi melihatmu yang enjoy menghisap, entah ide dari mana asalnya, Mama sangat ingin bisa menyusuimu. Sampai sekarang ada penyesalan kenapa Mama tidak terpikir belajar tentang ASI sewaktu hamil, apalagi yang namanya ASI eksklusif Mama sama skali tidak tahu. Yang Mama tau ya bayi minum dari susu botol (karena itulah yang nampak di smua sinetron Indonesia dan berbagai iklan produk susu itu), sedangkan ASI akan otomatis keluar sendiri saat Mama melahirkan. Itu tidak benar. ASI ku baru keluar hari kelima. Mama membiarkanmu diberi susu formula di Rumah Sakit. Bahkan setau Mama kamu boleh ke kamar Mama cuma dua kali sehari, yaitu waktu pagi setelah dijemur dan sore setelah mandi. Belakangan Mama baru tau kalo teman Mama bisa ke ruangan Bayi 2 jam sekali dan menyusui bayinya disana. Tidak seperti sekarang, Rumah Sakit mendukung rooming-in supaya bayi bisa disusui kapan saja.

Masa 2 bulan pertama, Mama benar-benar stres. ASI yang kluar sedikit, pertama kali mencoba memerah dengan pompa listrik AVENT hanya mendapat 20 ml, besoknya 30 ml. Dan bencana utama adalah suster yang kuambil dari yayasan ini ternyata tidak mendukung ASI. Bisa baca cerita lengkapnya disini dan disini. Kadang Mama menangis sendiri karena merasa gagal sebagai ibu. Merasa payah sekali dan kesal karena ASI yang keluar sedikit. Ditambah omongan suster yang nggak mikir kalo ngomong sama majikannya. Dia bilang ASIku sedikit lah, menegur kalo aku makan gorengan lah, pernah semalaman aku dilarang tidur sama bayiku karena aku sedang flu (Coba ya, mana suster mana majikannya?). Lapor ke mertua dan mamiku kalo ASI ku sedikit dan supaya mereka menyuruhku berhenti memberikan ASI. Oh dan bahkan dia mendikteku dalam memberi susu formula. Dua jam sekali bayiku dijejali susu formula sehingga bayiku tidak terlalu niat menyusu padaku. Mamiku mendukung susterku dan berkata di belakangku untuk tetap memberikan susu formula dua jam sekali regardless what I said. Susterku diam-diam sengaja memberikan susu formula persis sebelum kususui, supaya anakku tidak mau kususui (baru kutahu belakangan dari asistenku yang lain). Dan berbagai komentar pedas soal ASI ku. Pokoknya dua bulan itu I am really in mood swing, almost like baby blues. Satu-satunya orang yang mendukungku memberikan ASI hanya suamiku, thanks God, it was really meaningful.

Seperti kebanyakan bayi lain yang minum susu botol sejak lahir, bayiku mengalami bingung puting. Sebulan pertama, kamu meronta-ronta saat akan kususui. Walau hati ini sakit, Mama belum mau menyerah. Mama selalu menyusuimu saat kamu sedang ngantuk-ngantuknya, sehingga kamu tidak kuasa menolak. Mama pernah menggendongmu keliling kamar sambil menyanyikan lagu sambil menyusuimu. Dari menangis keras akhirnya lama-lama kamu mau menerima juga. Mama berharap diberi kesempatan menyusuimu setidaknya sebulan saja.

Setelah sebulan lewat, Mama berharap setidaknya bisa menyusuimu 3 bulan saja. Apalagi di bulan kedua kamu mulai menikmati diberi ASI. Mama suka saat-saat kamu nemplok dan mata kita bertatapan. Matamu yang bulat dan berbinar itu memberikan Mama semangat yang besar untuk terus menyusuimu. Mama membaca buku-buku ASI, Mama pergi ke klinik laktasi, belajar massage payudara, belajar memerah dengan tangan, ikut seminar laktasi, ikut mailing list asiforbaby. Tidak disangka setelah umurmu 2 bulan kamu justru lebih suka ASI daripada susu formula. Di usia 3 bulan, kamu menolak diberi susu botol saat sadar. Kamu hanya mau susu botol dalam keadaan tidur. Mama sempat berusaha relaktasi untuk kembali full ASI. Tapi setelah beberapa saat beratmu ditimbang, DSA mengatakan kurang bagus, pertumbuhanmu kurang optimal katanya. Rasanya Mama ingin menangis di depan DSA itu. Mama coba ke DSA lain yang pro ASI. Tapi pada akhirnya Mama sadar, bahwa Mama sudah melakukan segala cara dan semaksimal mungkin untuk memberikan ASI. Kalau pada akhirnya memang tidak bisa full ASI, itu karena kesalahan dari awal kamu sudah diberi susu formula 700-800 cc perhari. Yang mana buat Mama sulit banged untuk mengejarnya. Yang terpenting adalah kamu tumbuh sehat, dan Mama menyusuimu adalah demi kamu, bukan demi obsesi Mama. Itu sangat melegakan Mama.

Di usia 7 bulan kamu menolak botol dot sama sekali bahkan di waktu tidur. Tapi lucunya kadang kamu mau ASI perah yang kumasukkan ke botol dot. Karena itu Mama semakin giat memerah. Jam 2 dan jam 4 pagi Mama sengaja bangun untuk memerah. Kalo diingat-ingat waktu itu rasanya seperti sapi, sgala kesempatan untuk perah perah dan perah 😀  Tapi Mama senang sudah melewati 6 bulan, artinya sekarang kamu sudah mulai makan dan beban di pundak sedikit terangkat. Paling tidak beratmu bisa ditambah dari makanan juga, pikirku. EH ternyata usia 8-13 bulan kamu susahhh sama skali untuk makan. Minum susu formula juga susah dan disendoki. Kamu hanya suka ASI. Berbulan-bulan Mama stres, dan mencari-cari jawaban atau saran di mailing list mpasirumahan. Mama mencoba berbagai menu yang menarik, tapi kamu susah ditebak. Mama pergi ke berbagai DSA dan beberapa memberikan vitamin penambah nafsu makan, tapi tidak berefek. Akhirnya usia 13 bulan nafsu makanmu mulai stabil, mungkin juga kamu sudah tidak dilanda sakit tumbuh gigi. Tapi beratmu jadi hanya 9,5 kg saat 1 tahun (tidak mencapai 3x berat lahir). Padahal beratmu 8,1 kg saat 7 bulan. Tekanan untuk menghentikan ASI tetap terus ada. Mamiku menganggap kamu tidak mau sufor karena masih ASI. Mungkin jika aku menyapihmu, kamu mau tidak mau akan menerima susu lain. Tapi ada temanku yang tidak memberi ASI, tapi anaknya susah minum susu formula dan mesti disendoki. Ada temanku yang menyapih awal anaknya supaya anaknya mau sufor, tapi ternyata setelah disapih tetap tidak mau juga. Jadi aku memutuskan untuk tetap menyusuimu sampai 2 tahun.

Papahmu sangat mendukung. Bahkan dia menikmati saat-saat kamu menyusu. Katanya terlihat ‘so peaceful’. Memang begitulah kamu saat menyusu. Terlihat “dunia boleh badai dan goncang, tapi susu ibuku tetap milikku” 😛 Matamu bulat menatapku, tanganmu memainkan hidungku, rambutku, kancing bajuku, apa saja yang dalam jangkauan. Yeah dan begitulah 2 tahun tiba-tiba sudah dekat. Sejak 18 bulan aku mulai metode penyapihan awal: tidak menolak tapi tidak menawarkan. Dan kamu memang bukan ASI-addict. Kamu jarang minta dan lebih sering aku yang menawarkan, sehingga bagian ini mudah sekali. Usia 20 bulan kamu hanya menagih 2x sehari yaitu saat tidur siang dan saat tidur malam, tidak terhitung saat nglilir. Usia 23 bulan Mama mulai lebih intensif, berusaha menidurkanmu dengan cara lain selain menyusu. Menggendongmu, membacakan cerita, membiarkanmu bermain sampai kamu sangat-sangat ngantuk. Kadang berhasil, tapi lebih banyak gagalnya. Di satu titik Mama mulai frustasi, kamu yang Mama kira gampang disapih, ternyata di bagian menyusu-sebelum-bobo susah banged digantikan. Teman-teman Mama menyarankan untuk mengoles sesuatu di puting, seperti mereka menyapih balita mereka. Tapi Mama pernah membaca di majalah bahwa itu tidak baik untuk psilokogis anak yang tidak siap disapih mendadak. Mama punya olesan yang diberikan teman Mama, tapi Mama tidak memakainya dan berusaha maksimal menyapih dengan cara lain dulu. Tiga hari Mama membujukmu untuk tidur tanpa menyusu, sangat rewel dan kadang tidak tega. Tapi Mama membulatkan tekad. Akhirnya kamu tidak meminta lagi, ajaib, ternyata tidak sesusah yang aku bayangkan 😀 Mungkin karena Mama sudah sering memberi tahu kamu sejak 18 bulan, Mama sering bilang “kalo kamu sudah 2 tahun, kamu harus berhenti menyusu. Anak besar bobo ngga pake nenen.” Begitu Mama bilang setiap ada kesempatan.

Awal disapih Mama menidurkanmu dengan cara menggendongmu lama. Tapi sekarang kamu justru mau tidur di ranjang, tidur dalam pelukan Mama, dannn.. tanganmu menggerayangi perut Mama. Mungkin kamu masih kangen dengan skin-to-skin contact yang dulu kita punya. Sungguh Mama bersyukur, dulu Mama tidak mengira bisa menyusuimu sampai 2 tahun. Dari 3 bulan berharap bisa 6 bulan, setelah 6 bulan berharap diberi perpanjangan kesempatan sampai setahun. Setelah setahun Mama yakin ingin meneruskan sampai 2 tahun. Semuanya anugrah Tuhan semata-mata. Meski Mama sangat menikmati menyusuimu, Mama tau hal-hal yang baik ada waktunya untuk berhenti, dan sudah waktunya untuk menyapihmu. Mama berdoa smoga sgala usaha Mama berguna sebagai bekal masa depanmu dan smoga Mama bisa menyusui adik-adikmu kelak dengan lebih baik lagi.

 

Cium sayang dari Mama
teruntuk Wesley yang tersapih 2 bulan lalu