Crazy Rich Asian

Siapa yang belom nonton film ini?

Pasti banyak yang sudah donk yaa. SPOILER ALERT yang di bawah yaaa, kalo blom nonton gausah baca 😀

Gw nonton film ini kurang lebih sebulan yang lalu. Gw agak surprise waktu gw bilang mau nonton film ini, eh misua bilang dia mau ikut. Kata dia review film ini di rottentomatoes bagus banget dan dipuji oleh kritikus2 film. Gw sebenernya gatau apa2 tentang film ini, baca novelnya juga nggak, liat trailernya juga nggak. Jadi gw masuk ke gedung bioskop tanpa banyak ekspektasi.

Ternyataaa film nya bagusss pisannn!!! Gw paling terharu pas Nick Young berlutut di pesawat, buka box dan disitu ada cincin mamanya. Surprised banget gw dan langsung seketika pengen nangis 😛 Adegan itu penting banget dan penuh arti, karena buat seorang Asian woman, sangat besar arti blessing mama mertua 🙂

Gw suka film ini karena sangat relate dengan kehidupan kita orang Asia. Yang meskipun kaya tujuh turunan, tapi masih ada sisi ‘normal’nya. Collin dan tunangannya ngajakin Nick dan Rachel makan di street food waktu pertama mereka sampai di Singapore. Si Eleanor waktu pesta di rumahnya masih turun sendiri ke dapur kasi perintah koki-kokinya. Keluarganya juga masih pegang tradisi, bikin dumpling rame-rame handmade.  Dan penggambaran di filmnya ini sangat thoughtful. Eleanor ini old money – OKL (Orang Kaya Lama), yang baju-bajunya polos tanpa label yang ‘berteriak’ tapi sebenernya keluaran brand mahal. Dan kalo diperhatikan, Eleanor ini seringnya pake baju nuansa hijau, classy dan elegan. Setidaknya gw perna denger costume designernya memang memikirkan konsep demikian untuk Eleanor. Oh dan u know what, cincin hijau zamrud yang indah itu aslinya beneran punya Michelle Yeoh lho!

Sedangkan si Peik Lin dan keluarganya lebih mirip new money – OKB (Orang Kaya Baru) terlihat dari cara berpakaiannya yang lebih ‘rame’ dan ‘meneriakkan’ label brandnya. Lalu rumahnya yang katanya terinspirasi Trump’s bathroom!

Gw juga suka dengan adegan Astrid Leong. Si cewe dari keluarga super kaya, sepupu Nick Young, yang menikah dengan orang ‘biasa’. Gw suka banget dengan kalimat terakhir dia pada suaminya (dan dengar-dengar adegan ini twist banget dari bukunya):
“It’s not my job to make you feel like a man. I can’t make you something you’re not.”
Suaminya selalu merasa insecure sebagai pria ‘biasa’ yang menikah dengan wanita super kaya, dan Astrid selalu berusaha menjaga perasaan suaminya. Sampai dia tau kalo suaminya diam-diam selingkuh.

Film ini recommended banget dah untuk ditonton!

Dan setelah gw selesai nonton, mulai tuh gw cari-cari soundtrack film ini di Youtube. Terutama lagu terakhir yang pake bahasa Mandarin tapi adaptasi dari lagu Barat. Ternyata baru ngeh klo itu lagu Mandarin diadaptasi dari Yellow-nya Coldplay, pantes berasa familiar banget lagunya 😀

Dan gw nemu fakta menarik tentang dipakenya lagu ini. Katanya awalnya si sutradara Jon M. Chu pengen banget pake lagu Yellow Coldplay untuk klimaks scene film ini, tapi pihak Warner Bros Studio khawatir karena kata Yellow itu sering dipake untuk sikap rasis / merendahkan orang Asia. Akhirnya sutradara berhasil meyakinkan pihak studio dengan berkata: “If we’re going to be called yellow, we’re going to make it beautiful.

Lalu gantian Coldplay yang menolak lagunya dipakai, kemungkinan karena alasan yang sama, karena takut Yellow ini akan menjadi suatu kontroversi sehubungan dengan filmnya yang all-Asian cast. Tapi Jon M. Chu tidak menyerah dan menulis surat pribadi ke Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland and Will Champion (Coldplay’s members).

Jon Chu’s letter to Coldplay

Dear Chris, Guy, Jonny and Will, I know it’s a bit strange, but my whole life I’ve had a complicated relationship with the color yellow. From being called the word in a derogatory way throughout grade school, to watching movies where they called cowardly people yellow, it’s always had a negative connotation in my life. That is, until I heard your song.

For the first time in my life, it described the color in the most beautiful, magical ways I had ever heard: the color of the stars, her skin, the love. It was an incredible image of attraction and aspiration that it made me rethink my own self image.

I remember seeing the music video in college for the first time on TRL. That one shot with the sun rising was breathtaking for both my filmmaker and music-loving side. It immediately became an anthem for me and my friends and gave us a new sense of pride we never felt before…(even though it probably wasn’t ever your intention). We could reclaim the color for ourselves and it has stuck with me for the majority of my life.

So the reason I am writing this now, is because I am directing a film for Warner Bros. called CRAZY RICH ASIANS (based on the best selling novel) and it is the first ALL-ASIAN cast for a Hollywood studio film in 25 years. Crazy. We were recently featured on the cover of Entertainment Weekly to commemorate the fact.

The story is a romantic comedy about a young Asian-American woman (played by Constance Wu) from New York coming to terms with her cultural identity while she’s visiting her boyfriend’s mother (played by Michelle Yeoh) in Singapore. It’s a lavish, fun, romantic romp but underneath it all, there’s an intimate story of a girl becoming a woman. Learning that she’s good enough and deserves the world, no matter what she’s been taught or how she’s been treated, and ultimately that she can be proud of her mixed heritage.

The last scene of the movie shows this realization as she heads to the airport to return home a different woman. It’s an empowering, emotional march and needs an anthem that lives up and beyond her inner triumph, which is where Yellow comes in.

It would be such an honor to use your song that gave me so much strength throughout the years, to underscore this final part of our film. And for me personally, it would complete a journey that I’ve been going through, fighting to make it in the movie business.

I know as an artist it’s always difficult to decide when it’s ok to attach your art to someone else’s–and I am sure in most instances you are inclined to say no. However, I do believe this project is special. I do believe this is a unique situation in which the first Hollywood studio film, with an All-Asian cast is not playing stereotypes or side-players, but romantic and comedic leads. It will give a whole generation of Asian-Americans, and others, the same sense of pride I got when I heard your song. I know it’s recontextualized but I think that’s what makes it powerful. I want all of them to have an anthem that makes them feel as beautiful as your words and melody made me feel when I needed it most.

Your consideration would mean so much to me and our project.

I can show you the movie if you want to see the context, or talk to you if you have any questions. Thank you for taking the time to listen.

Much love,

Jon M. Chu

And Colplay finally give an OK.

Sejak itu gw denger lagu Yellow jadi merasa punya arti. Jon M. Chu sendiri adalah seorang Chinese American dan tahu rasanya menjadi seorang dengan mixed identities and culture blend. Dia tau banget bagaimana membawa cerita Rachel Chu – yang juga seorang Chinese American dalam cerita ini. Bagaimana bahwa Rachel merasa dia seorang Chinese – yang sama seperti Nick, tapi ibunya berkata bahwa Rachel bukan benar-benar Chinese karena dibesarkan di Amerika dan punya pemikiran orang Amerika. Demikian pula alasan Eleanor tidak menyukai Rachel, bukan karena Rachel tidak kaya, tetapi Eleanor merasa Rachel itu perempuan Amerika! Dan perempuan Amerika itu menomorsatukan mimpi dan karir daripada keluarga.

When you are a Chinese American, American will always say you are Chinese people. But Chinese native will say, you are not really Chinese!! I think that’s what the director felt, and also many many others Asian American.

Oh ya fakta lainnya: penyanyi cover lagu Yellow,  Katherine Ho – yang masih sangat muda, juga seorang Asian American. Kina Grannis – yang nyanyi Can’t Help Falling in Love waktu nikahannya Collin – juga seorang Asian American. Memang bener di film ini, semuanya all-Asian cast!!

Kalo tertarik baca fakta-fakta tentang Crazy Rich Asian berikut link nya:

Yellow cover song almost didn’t make it to happen
https://www.bustle.com/p/the-yellow-cover-in-crazy-rich-asians-almost-didnt-happen-for-a-number-of-reasons-10225822

Mahjong scene explained
https://www.vox.com/first-person/2018/8/17/17723242/crazy-rich-asians-movie-mahjong

And here are the songs, cover by Katherine Ho and original by Coldplay 🙂

Iklan

Jalan-Jalan Jogja

Udah lama banget vakum nulis. Sekarang mumpung ada waktu mau bayar hutang postingan 😛

Sebelumnya maaf kalo postingan ini agak basi, karena uda dari tahun lalu. Tapi ditulis disini biar gw sendiri inget tahun lalu ngapain aja, pergi kemana, dan siapa tau infonya berguna buat yang baca 😀

Ceritanya gw ni kan tertarik dunia ilustrasi ya, dari kecil emang hobi gambar, tapi baru mulai tahun lalu gw belajar lukis watercolor secara otodidak. Biasanya mah gw gambar manga pake pen, trus lama-lama digital coloring, klo watercolor ilmu gw sebenernya NOL. Gw juga sering dikira anak disain saking sering nerima kerjaan disain logo, ilustrasi, dll. Padahal sebenernya gw sama sekali ga pernah kuliah disain, gw kuliahnya IT alias Teknologi Informasi. Jauh banget yaa wkwkwkk.. ya intinyaa.. karena gw sadar skill gw terbatas, kalo ada kesempatan gw pingin banget belajar formal. Dulu bahkan gw sempat bercita-cita mau kuliah lagi ambil disain, yang mana keinginan itu terbang begitu gw menikah dan punya anak 😀

Untungnya sekarang jaman sosial media, dimana kita gampang banget kalo mau belajar sesuatu. Video masakan? Banyak. Tutorial watercolor? Juga banyak. Dan kita bisa lihat banyak karya ilustrator-ilustrator yang bagus-bagus. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Gw ada follow beberapa illustrator dalam negeri yang menurut gw karyanya bagus banget, dan beberapa sering diundang / adain sendiri workshop ilustrasi. Gw pengennn banget bisa ikut tapi cuma bisa gigit jari karena semua workshop itu selalu diadakan di Jakarta! *berasa ga adil banget karena gw tinggal di daerah.

Kalo yang di Jakarta dan suka belajar hal baru, bisa follow @maubelajarapa. Gw selalu mupeng pengen ikutan kelas-kelasnya. Sayang di Jakarta atau Surabaya aja adainnya 😦

Prolog gw panjang bener yakk..

Tiba-tiba di suatu hari keberuntungan gw, salah satu ilustrator kenamaan yang gw follow, umumin di story IG nya kalo dia mau liburan ke Jogja dan berpikir untuk adakan workshop ilustrasi, tempat terbatas. Langsung mata gw bulet 100%, lari ngomong sama misua sambil pasang tampang imut mengiba supaya gw diijinkan ikut workshop ilustrator ini di Jogja. Karena paling tidakkk gw gak harus naik pesawat kalo cuma ke Jogja. Dan tentu embel-embelnya “sekalian ajak anak-anak jalan-jalan” wkwkwkwk acara workshopnya pas hari Sabtu jadi bisa sekalian jalan-jalan Jogja.

Oh ya gw emang emak rempong yang kalo gw pergi kemana, pasti gw bawa pasukan misua dan anak-anak 😛

Hari Sabtu tanggal 3 Juni 2017, kita berangkat ke Jogja pagi-pagi, karena workshopnya jam 1 siang. Ternyata di luar perkiraan, ga macet sama sekali, jadi jam 10 kita uda sampe Magelang, masih too early untuk langsung ke tempat workshop. Akhirnya spontan kita googling enaknya mampir kemana dulu di daerah Magelang. Akhirnya gw usul brunch ke Plataran Borobudur, soalnya hasil gooling reviewnya bagusss. Langsung belok dehh..

PLATARAN JOGJA (PATIO RESTAURANT)

sampe di Plataran

img_5319

ini anak bawa kamera lama gw, dijadikan hak milik dia untuk foto-foto, gamau kalah sama mamanya 😛

ini juga sibuk explore sana sini

suasananya rindang damai dan tempatnya besar

ada kolam renangnya

Jadi di Plataran ini ada dua restaurant. Yang satu namanya Stupa, view nya sawah dengan masakan Indonesia. Satu lagi namanya Patio, view nya Borobudur dengan masakan Western. Kita nyobain yang Patio. Disini juga ada hotelnya untuk menginap lho.

Gw kira tuh Candi Borobudurnya di depan mata karena namanya Plataran (halaman) Borobudur, ternyata jauh disono wkwkwkk

ada miniatur Borobudur untuk berfoto

bisa duduk santai outdoor

ini semacem egg benedict atau apa, lupa wkwkwk. Makanan disini agak pricey ya, kayanya memang jual tempat dan view

doi makan nasi goreng

mau lihat bintang

di tempat parkiran ada ini, segera berfoto dulu 😀

 

ILLUSTRATION WORKSHOP

Setelah puas santai-santai dan nyemil di Plataran, kita meluncur ke tempat workshopnya: Lokal Restaurant di Jogja. Lokal ini termasuk restaurant dan hotel yang terkenal di Jogja karena nyeni-nyeni gitu tempatnya 😀 Kita dulu sudah pernah makan disana. Workshop jam 1 sampai jam 4, yang mana molor sampe jam 5-5.30 karena kita juga foto-foto di akhir acara.

Ilustratornya adalah Rachel Ajeng, yang nengok IG nya pasti sepakat kalo doi sangat talented. Dia sedang liburan ke Jogja terus adain workshop ilustrasi dengan tema Fairytale. Bayarnya 475k, dapet: watercolor brush, watercolor paper, palet beberapa warna dari Winsor & Newton cotman paint, pencil + eraser, lunchbox + drink, handout.

Meskipun harganya gak murah, tapi menurut gw sangatlah worth it. Ilmu yang didapat banyak, gurunya ga pelit bagi ilmu tips and trick, dikasi pamflet kecil juga isinya basic watercolor info. Gw baru tau jenis-jenis kertas watercolor disini, jenis-jenis brush, jenis paint. Oh dan kita dikasi liat gurunya praktek ngelukis langsung di depan kita, abis itu kita praktek juga.

ini difoto di rumah, kenang-kenangan apa yang gw dapat dari workshopnya (iyah itu palette nya ama brushnya dikasi juga)

with young & talented artist Rachel Ajeng, her works are adorable

Peserta workshopnya kebetulan ga banyak, seinget gw kurang dari 10. Jadi gurunya bisa bener-bener care ke tiap orang, ngliatin dan ngajarin satu-satu. Peserta workshop cewe semua, dan kelihatannya masih SMA / kuliahan gitu. Gw ingat waktu itu bulan puasa, dan rata-rata mereka semua puasa, gw jadi aga sungkan mau minum di depan mereka hehehe. Dan sepertinya cman gw yang uda beranakpinak, yang lain muda umur 18-20an. Syukur pas kenalan ama cewe yang duduk di depan gw, dia nanya gw kuliah dimana?? Euyyy padahal gw pan dah lulus kuliah lebih dari 10 taon lalu 😛 Blom kliatan emak-emak yah? wkwkwkk

Setelah workshop, gw meluncur balik hotel naik Taxi. Mandi dan siap-siap bentar, lalu berangkat sama anak dan misua ke Hartono Mall Jogja. Mall nya besarrr banget, tapi sepi. Kita dinner di Ikkousha Ramen, mumpung ada di Jogja 😀

Ikkousha ramen, must have klo ke Jakarta. Berhubung ada di Jogja sekarang jadi must-have di Jogja juga 😀

WESTLAKE RESORT JOGJA

Kita nyoba hotel baru di Jogja, namanya Westlake Resort Jogja. Kita booking cuma semalam sebelum berangkat dengan no expectation at all. Soalnya beberapa hari sebelumnya gw uda sibuk banding-bandingin hotel di Jogja, saking banyaknya sampe bingung mau pilih yang mana, kita pengennya nyoba hotel baru yang belom pernah. Tetiba H-1 ada temen rekomen hotel ini, ya sudahlah we decide to go for it, what can be bad of staying 1 night only anyway kan?

Ternyata, gw takjub pas nyampe hotelnya. Mirip-mirip resort di Bali gitu. Ga seperti hotel umumnya. Banyak alamnya, ada suara gemericik air, suara jangkrik kalo malem, dan suara burung nyanyi kalo pagi. Pokoknya cantik dah!!

Gw nyampe hotel dah malem sekitar jam 6.30 abis dari workshop. Dianter naik caddie car ke kamar 😀

Paginya gw baru sempet foto-fotoin kecantikan hotel Westlake ini..

balkon kamarnya menghadap danau

danau di tengah hotel

kolam renang gak besar tapi cukup oke

restaurant tempat breakfast

breakfast ga banyak pilihan tapi enak 😀

kamarnya model cottage. Yang kanan balkonnya tembus ke danau. Tapi kita nginap di yang kiri.

Disini danaunya ada ikan-ikan, di balkon kamar kita juga ada semacem parit yang isinya ikan kecil-kecil. Kita bisa beli makanan ikan di hotel nya, Anak-anak seneng banget ngasi makanan ikan di belakang kamar kita.

teras belakang kamar kita, ada parit isi ikan-ikan. Anak gw kasi makan ikan disini

MESA STILA MAGELANG

Siang itu stelah breakfast, kita checkout. Di perjalanan sebelum pulang Semarang, kita nyari-nyari tempat untuk makan siang dan leyeh-leyeh. Akhirnya kita nyoba ke Mesa Stila di Magelang. Tempatnya bagus, halaman dan tanaman dimana-mana. Ternyata selain restaurant, disini juga ada resortnya untuk menginap.

rindang banget disini, luas dan puas kalo buat anak lari-larian

Makanannya Indonesian dan Western. Makanan cukup oke, tempat bagus, suasananya damai macem di Ubud gitu lah 😀

Demikianlah refreshing kita 1 night stay at Jogja. Satu malam aja nulisnya segini panjang dan lama, gimana kalo beberapa malam ya? 😛

Btw, beberapa hari setelah pulang dari Jogja, gw back to pesanan ilustrasi, saatnya praktek ilmu watercolor dari workshop kemaren, dan ini hasilnya.. still not perfect but I guess a lot better!

pesenan untuk souvenir baby lahiran

Salam LUAR BIASA!

Kmaren sabtu aku dateng seminarnya Pak Andrie Wongso di Patra Jasa. Sebenernya sih gara-gara diajakin papaku. Tadinya kita sempet aga males, soalnya seminarnya dari jam 9 sampe jam 4. Tapi berhubung uda beli tiket ya uda kita coba dateng. Eh tnyata bagus loh, ga rugi dateng. Misua yang sempet pesimistik sama seminar-seminar motivasi aja bilang bagussssss. hehehe

Ehm sebelom Pak Andrie, sebelumnya ada pembicara lokal dari Semarang, namanya Pak Harjanto Halim. Sebenernya dia bukan pembicara sih, tapi pengusaha yang terhitung sukses di kota Semarang. Dia pendiri perusahaan Marimas, itu loh minuman serbuk yang rasanya macem-macem, ada jeruk, apel, sirsak, dan yang terbaru ini mau keluar adalah rasa blueberry (loh kok jadi promosi yak :P). Yah jadi dia sekedar diminta untuk share bagaimana perjuangannya dari nol sampai bisa seperti sekarang ini.

Aku pribadi justru tertarik pas Pak Harjanto ini bicara. Karena dia lebih banyak cerita soal pengalamannya, dan dia bicara dalam logat Jowo.. jadi asik aja ndengernya. Dia bilang dia dulu dilahirkan di keluarga yang cukup berada, dan dia beruntung bisa disekolahkan sampai master di Amerika. Setelah lulus kuliah, dia pulang Indo dan saat itu dia bingung apa yang mau dikerjakan. Dia pun mulai mencoba-coba membuat beberapa produk seperti STMJ (Susu Telor Madu Jahe) yang saat itu sedang ‘in’ di Indonesia. STMJ buatannya tak kalah enak dengan produk lain yang sudah ada, lalu ia mengusung brand Srikandi apa gitu *lupa* dan mengemasnya dengan kemasan yang beda dari yang lain, yakni warna pink dengan simbol brandnya sepasang pengantin dan dilingkari bunga-bunga. Dia lalu mulai blusukan ke pasar-pasar dan menitipkan produknya itu ke beberapa penjual di pasar. Selang berapa lama, ia melihat bahwa produknya tidak laku terjual. Kenapa? Nah dia pun penasaran dan bertanya pada si penjual. Kenapa STMJ nya tidak laku, padahal enak dan kemasannya pun bagus. Penjualnya berkata dengan polosnya.. “oh abis ini dikirain orang-orang BEDAK WANGI sih”.. olalaa.. Rupanya karena kemasannya yang pink, dengan simbol pengantin, membuat orang tidak ‘ngeh’ kalo itu adalah STMJ. Itu salah satu contoh pengalaman pertamanya yang tidak berhasil, tapi Pak Harjanto menarik pelajaran dari sini. Bahwa menjual produk itu tidak bisa sekedar produk yang enak dan berkualitas, tapi kemasannya pun harus ‘menjual’ dan tepat sasaran.

Setelah itu dia mencoba membuat produk-produk lain yang mana juga belom berhasil.. tapi dia tidak menyerah.. sampai suatu hari akhirnya ia punya ide untuk membuat minuman serbuk. Kala itu yang ada ialah sirop di botol, belom ada minuman dari serbuk. Maka ia mencoba membuatnya, dengan ongkos seminim mungkin, ia berhasil membuatnya dan rasanya enak. Lalu ia mulai menjualnya dan di luar dugaan, orang-orang menyukainya. Pasar menyambutnya. Produknya laku keras bak kacang goreng.

Setelah beberapa tahun, ia kembali dihadapkan pada suatu tantangan, yakni ada tawaran untuk mengiklankan produknya. Dia tahu dengan iklan, produknya bisa Go National. Bahkan produk sekelas Coca Cola (yang tidak diiklankan saja orang sudah tahu apa itu Coca Cola) tetap saja beriklan besar-besaran. Berarti kesimpulannya Iklan itu PENTING.. dan berguna! Tapi yang jadi masalah, biaya untuk iklan sangat besar, kira-kira waktu itu 600 juta selama 3 bulan. Padahal waktu itu omzetnya saja cuma 300 juta sebulan (omzet lho, bukan laba). Jadi sepertinya gambling untuk mengiklankan Marimas ini. Akhirnya Pak Harjanto tetap memutuskan untuk beriklan. Dan ternyata itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuatnya. Orang-orang mengenal apa itu Marimas dan omzetnya pun naik luar biasa.

Ngomong-ngomong sampai saat ini dia merasa dia belum sukses. Katanya (aku setuju banged) sukses itu relatip, setiap orang punya target sendiri yang dia tentukan sebagai definisi ‘sukses’ tersebut. Seminar ini judulnya STRUGGLE, FIGHT, AND WIN YOUR SUCCESS. Beliau berkata bahwa dia masih Struggle & Fight. Selalu ada tantangan-tantangan baru dalam perjalanan Marimas, tapi ia mau terus berjuang dan belajar.

Oya menurutku yang berkesan dari Pak Harjanto ini, beliau berkata: 

“Anak orang kaya itu kadang susah kalo mo kerja, kalahnya sama GENGSI. Nah seperti waktu saya pulang dari Amerika, saya membawa titel master, lulusan Amerika pula! Rasanya mo ngelamar kerja apa kok keberatan dasi. Mo blusukan di pasar, orang bilang: walah lulusan master aja akhirnya jadi pedagang di pasar. Hahaha. Tapi orang kalau udah ‘cinta’ itu lain, seperti saya mencintai produk Marimas saya. Saya tidak malu blusukan di pasar dan mengundang orang-orang yang lewat untuk nyicipi minuman saya. Waktu itu saya kerja dari pagi sampai malam jam 11-12, capek iya, tapi rasa senangnya luar biasa..”

Masih banyak lagi cerita Pak Harjanto, tapi panjang sekali kalo diceritakan semua 🙂 Berikutnya Pak Andrie Wongso..

Kesan saya, beliau benar-benar profesional membawakan acara seminar motivasi. Seminarnya lengkap dengan slide-slide (jadi ingat waktu aku kuliah :P), foto-foto masa kecil dan masa mudanya, bahkan animasi tentang perumpamaan yang dibikinnya. Pokoknya aku pikir: WOW niat banged yah!

Aku sudah pernah baca buku biografinya yang ditulis oleh istrinya, judulnya Andrie Wongso Sang Pembelajar. Jadi aku sudah tau pengalaman hidupnya sebelum dia cerita. Aku cerita sekilas ya. Pak Andrie ini gelarnya SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat), lahir dari keluarga miskin, ibunya mencukupi kebutuhan hidup dengan kerja keras berjualan kue-kue dan makanan lainnya. Waktu beliau kelas 6 SD, sekolah Tionghoa ditutup (jaman gestapo PKI). Lalu waktu dia remaja, dia sempet kerja jadi kuli tukang angkut kabel (hm aku jadi inget tokonya bapakku). Karena jadi tukang angkut-angkut itu, badannya jadi kekar, orang pun tertarik untuk minta diajari ilmu bela diri. Berhubung dia pintar karate, dia membuka kelas karate. Pak Andrie Wongso tahu menjadi kuli angkat-angkat bukan apa yang ia inginkan. Dia ingin jadi bintang film Hongkong. Setelah dia sempat gagal melamar pekerjaan artis di ibukota, ia sempat pulang ke Malang karena bapaknya meninggal. Tapi niatnya untuk menjadi bintang film Hongkong tidak pernah surut. Akhirnya ia mengirim surat lamaran kerja ke Hongkong disertai foto-foto action Karate nya (foto di Tarzan studio, btw foto-fotonya emang bagusss siehhh! kerenn! dan orangnya juga ganteng :P) Dan diterima! Singkatnya ia pergi ke Taiwan untuk syuting film disana. Setelah 2 tahun, karena kontrak habis, dia pulang ke Indonesia. Di Indonesia, karirnya sebagai model pun terbilang bagus, sekali foto dapat Rp.50.000, sehari bisa foto 3-4 kali, jadi ia mendapat penghasilan yang lumayan kala itu.

Beliau suka menulis kalimat-kalimat motivasi untuk ia baca sendiri. Temannya menyukai kalimat mutiara yang dibuat Pak Andrie dan menconteknya untuk dirinya sendiri. Pak Andrie melihat ini sebagai peluang, dia punya ide untuk mencetak pembatas buku bertuliskan kalimat-kalimat motivasi. Kala itu ia bertemu dengan mantan pacarnya (sekarang jadi istri), tetangga kos nya, dan mereka berkeliling untuk menitipkan pembatas-pembatas buku itu di toko-toko. Singkat cerita, itulah cikal bakal HARVEST, perusahaan yang mencetak berbagai kartu ucapan dengan kalimat-kalimat mutiara.

Namun seperti umumnya bisnis, ada waktu masuk dan ada waktu untuk keluar. Ketika tahun 90 an, kesuksesan Harvest pun mulai pudar. Penyebabnya tak lain adalah layanan SMS yang mewabah di Indonesia. Orang tidak lagi menggunakan kartu ucapan tapi lebih suka berkirim SMS. Harvest banting setir ke stationary. Suatu hari seorang teman dari Pak Andrie meminta Pak Andrie untuk jadi pembicara di sebuah acaranya. Lalu tawaran-tawaran lain mulai berdatangan, beliau berbicara di beberapa seminar motivasi. Sampai hari ini, Pak Andrie sudah menjadi motivational speaker di berbagai perusahaan besar di Indonesia, seperti: ASTRA, Garuda, Agung Podomoro, dan massssihhh banyak lagi (kalo lihat list nya kok rasanya smua perusahaan sudah pernah di ‘motivate’ oleh beliau ya). Lebih lengkapnya klik sini www.andriewongso.com.

Yang paling berkesan tentang Pak Andrie Wongso adalah self image nya yang sangat positip terhadap diri sendiri. Bagaimana seorang yang tidak lulus SD bisa menjadi pengusaha sukses? Tidak lain karena mentalnya yang luar biasa. Ia percaya Tuhan tidak memberikan nasib jelek kepada seseorang, Tuhan memberikan kemampuan untuk berjuang di tengah kesulitan. Karena itu setiap saat ia selalu memotivasi dirinya sendiri. “Andrie, kamu bisa!” katanya pada diri sendiri. Oleh karena itu, seperti beliau, mari kita belajar untuk mengucapkan kata-kata positip, percayalah bahwa masing-masing kita adalah orang yang LUARRRR BIASSAAA!! 🙂

lahirnya blog saya

Kenapa Nyonya Kecil?

Tadinya sih mao Nyonya Besar tapi dipikirpikir lagi jadi malu sendiri 😳

yasud ini posting pertama saya. smoga yang menyusul nanti lebih banyak yak. smoga kali ini blog ku bertahan lebih lama dari biasanya. aminnn 😀