Mau dibawa kemana, negara kita?

Tadinya gw ga pengen posting apapun. Lagi gak mood juga. Hari ini gw sama sekali gak posting apapun di empat akun instagram gw, jualan juga nggak.

Tapi baca tulisan ini: https://seword.com/politik/ahok-dipenjara-pulang-indonesia/, gw jadi tergelitik, soalnya kok sama persis dengan pikiran gw ya? Hehehe.. Hari ini ramai sekali di feed social media gw. Ada yang bilang ini taktik pak dhe. Ada yang bilang abis ini keluar penjara jadi presiden. Bahkan ada yang menghibur dengan posting foto Nelson Mandela yang bilang “In my country we go to prison first and then become President”. Ada yang menghibur dengan ayat Alkitab.

Tapi hari ini gw sedang lelah. Lelah karena kasus ini seharusnya dari awal tidak perlu masuk persidangan. Lelah melihat demo berjilid-jilid yang menghabiskan entah dana berapa (dan selalu membuat gw bertanya-tanya, mereka ini pekerjaannya apa? Kok bisa demo melulu di hari kerja?). Lelah melihat komen-komen di detik.com dari kaum bumi datar yang penuh kebencian. Padahal gw gak kepengen baca beritanya, tapi kok gatel pengen baca komen2nya hahahha..

Gw gak sedih-sedih amat sebenernya. Gw tau beberapa temen gw sedih sampe nangis-nangis.. Gw biasa aja, gw yakin Pak Ahok pun sewaktu masuk politik sudah siap hal-hal seperti ini mungkin terjadi. Bahkan dia sendiri pernah menyatakan tidak takut mati. But I feel terribly sorry for his wife and his children. Apa rasanya malam ini bagi istri dan anak-anaknya karena papanya tidak pulang ke rumah malam ini. Papanya yang selalu mereka sayang dan banggakan tidur di rutan malam ini.

Itu sebabnya dari dulu gw selalu berkata sama misua. Yang orangnya juga lurus dan bijaksana. Gw selalu berkata: “Jika nanti kamu jadi orang sukses, aku gak mau kamu terjun ke politik. Jangan pernah!” Karena gw ga akan pernah siap menjadi seorang Ibu Vero. Yang suaminya bangun pagi pergi kerja keras mendengar keluhan rakyat di Balai Kota, lalu rakyat pula lah yang mendemo mencacimaki dan mendoakan suaminya cepat mati. Gw ga akan siap juga lihat suami gw masuk penjara pakai baju tahanan, yang ada gw mewek-mewek di rutan gamau pulang mendekap jeruji besi.

I feel sorry for his children. Anak-anaknya terutama yang masih kecil, pasti akan bertanya, kenapa papanya masuk penjara. “Bukankah penjara itu tempatnya penjahat, kriminal dan koruptor? Kejahatan apa yang papa lakukan?” Kalau Sean, saya rasa pasti sudah paham kenapa papanya masuk penjara.

Tadi aja waktu gw nonton berita, si sulung nanya: “itu kenapa Mah? Ahok dipenjara ya? Kenapa dia dipenjara?” Gw bingung aslik beneran mau jawab apa. Doski tetep keukeuh nanya mulu “Kenapa Ahok dipenjara Mah? Kenapa?” Gw uda mau mengelak namun kemudian anak ini menjawab sendiri (entah tau dari mana?): “Karena sebut-sebut agama ya Mah?” “Iya nyo” – sambil berharap doi ga nanya lebih detil lagi. Karena sulit menjelaskan hal yang satu ini.

Gw tidak 100% bilang Ahok tidak salah dalam hal ini. Mungkin saudara-saudara kita yang Muslim memang tersinggung karena ucapannya. Namun 2 tahun penjara? Ini bahkan lebih berat daripada tuntutan jaksa. Gw menyayangkan kenapa hakim memberi putusan sangat berat, tidakkah kerja kerasnya dan hasilnya dinikmati nyata oleh warga Jakarta? Kenapa nila setitik menghapuskan semua kebaikan yang pernah diperbuat?

Ahok rasanya pengen gw kasi title Man of the Year, karena nama beliau paling banyak dan sering mendominasi berita selama setahun belakangan ini. Banyak yang mencaci maki, tapi begitu banyak yang memuja. Begitu banyak yang benci, tapi begitu banyak yang cinta. Lihatlah taman Balai Kota, penuh dengan bunga, balon, bahkan kaktus. Gw gak kirim sih, cuma kirim doa saja. Doa saya pak, semoga setelah segala keruwetan ini berakhir, Bapak sama keluarga hidup tenang di luar negeri saja. Mungkin di Kanada atau Jerman, disana pasti ada pekerjaan dimana Bapak dihargai. Hidup tenang dan bahagia sama anak istri. Di Indonesia, tidak ada tempat untuk kaum double minoritas apalagi yang lurus bersih tegas seperti Bapak.

Gw juga mau kerja kerja kerja, nabung buat skolahin anak di luar negeri. Sukur-sukur kalo dapet beasiswa yaa mamak bapaknya lebih ngirit hehehe. Terserah mau dicap gak nasionalis. Sebagai kaum double minoritas juga, gw ingin anak gw punya pilihan. Untuk hidup dihargai di luar negeri tanpa dipandang ras dan agamanya apa (dulu gw perna bertanya-tanya kenapa KTP indonesia ada kolom agamanya, gw rasa id card luar negeri kebanyakan tidak ada karena mereka menganggap agama adalah privacy tiap individu). Untuk hidup tenang tanpa diskriminasi dan ketakutan karena demo-demo.

Gw cinta Indonesia terutama Semarang, gw lahir dan besar disini, punya pekerjaan yang gw sukai dan komunitas disini. Meski gw pernah tinggal 4 tahun di Sydney, tapi gw memutuskan pulang dan membuang Permanent Resident gw. Namun kejadian ini membuat gw berpikir ulang, gw harus memberikan kesempatan yang sama untuk anak gw kelak. Seandainya mereka ingin terus tinggal di luar negeri, gw akan mendukung *mulai ambil tissue*, mungkin itu suatu keputusan yang baik untuk mereka. Karena hari ini gw gatau, mau dibawa kemana negara ini?

PS: Semoga Pak Ahok selalu sehat dan baik-baik saja, tetap menjadi terang dan garam dimanapun berada 🙂 Trully phenomenal and inspiring man!

PS lagi: Semoga suatu hari nanti, entah di jaman gw atao anak gw ato cucu gw ato…. , suatu hari nanti Indonesia menjadi negara maju, dimana setiap penduduknya tanpa dipandang ras dan agamanya, mempunyai kesempatan yang sama duduk di dunia politik, bebas berkarya memajukan bangsa tanpa embel-embel kafir. Sampai saat itu tiba, mari kita duduk dan berdoa..

Lain Ladang Lain Belalang: Gaya Hidup

Sebenernya gw mau post kuliner khas Semarang, tapi foto-fotonya kok belom lengkap yahh. Maklum udah kelaperan biasanya jadi lupa foto langsung masuk ke perut 😛 Sebagai gantinya, gw mau nulis-nulis perbedaan gaya hidup di kota Semarang ini dibanding Jakarta. Soalnya gw suka mengamati gaya hidup orang sekarang, maklum efek sosial media kali yah. Suka ngamatin hidup orang lain alias kepo. Tapi ya gapapa lah asal keponya bersifat menganalisis dan belajar memahami budaya orang *bela diri* hwakakaka..

1. Pesta

Perbedaan yang paling signifikan antara pesta kawinan di Semarang dan Jakarta adalah tempat duduk. Jadi lumrahnya kalo pesta di Jakarta, biasanya selalu standing party alias berdiri alias prasmanan, kalo di Semarang kebanyakan (meskipun tidak selalu) adalah ‘ciak to’ atau makan di meja bundar. Belakangan ada tren lagi makan dengan meja panjang (ingat film Harry Potter?) alias Fine Dining, alias makan ala Barat dengan porsi kecil tapi Very-Well-Presented. Bagus juga sebab kadang kita bosan makan Chinese Food di meja bundar mulu. Biasanya makan Fine Dining ini adalah yang paling ngabisin ongkos buat empunya gawe karena dihitung per orang dan mahal.

Dress code yang tepat kalo gw kondangan di Jakarta adalah dress pendek dan tas yang ada rantainya supaya bisa digantung di bahu. Sebab kalo pake dress panjang, ribet jalan-jalan ngambil makanannya. Apalagi kalo bawa clutch yang ga bisa digantung di bahu, wah gimana bawa piring dan sendoknya? Dikempit mulu juga ga nyaman. Soal sepatu bagusnya jangan tinggi-tinggi karena pegel berdirinya, tapi atas nama estetika biasanya gw tetep cuek pake hak tinggi hihihi, beauty cost a little pain 😛

Sedangkan kondangan di Semarang lebih bebas mau dress panjang atau pendek, clutch ada rantai atao mesti dikempit, hak tinggi 10 ato 12 cm, sebab biasanya kita duduk dan pakai printilan tersebut sama sekali tidak merepotkan hehehe. Yang sama antara Semarang dan Jakarta adalah, biasanya cewe-cewenya tampil perfecto, rambut wavy dari salon, makeup cakep, dan stilletto. Jarang banged deh liat yang lancai datang ke kondangan, semakin pestanya besar di hotel terkenal, yang datang makin heboh dandannya. Sebabbb, pertama pasti ada sesi foto-foto minimal di wedding photobooth, kedua kalo pestanya mewah biasanya suka manggil majalah lifestyle macam Registry atau Indonesia Tatler. Yahh takut kan kalo tertangkap foto di majalah yang nyebar 1 nusantara trus kitanya not in our best condition hehehhe.

Nah bedanya lagi soal Bintang Tamu. Kalo di Jakarta ya biasanya gw lihat pengisi acara yang penting paling 1 MC dan 1 penyanyi, lalu sepanjang acara, kedua mempelai mingle dengan tamu-tamunya. Tamu asyik ngobrol, ketemu temen-temen, chit chat sambil makan. Kalo di Semarang, kita serasa disuguhi SHOW. Karena tamu duduk (yang otomatis ga bebas mingle ngobrol sanasini), jadi yang punya gawe biasa mendatangkan penari dan penyanyi. Bukan sembarang penyanyi, tapi artis ibukota macam Judika (paling sering), BCL, Krisdayanti (sejak cerai jarang ada yang ngundang), dan masih banyak lagi. MC yang sering diundang di Semarang adalah Daniel Mananta, Edrick, Choky Sitohang. Urusan Bintang Tamu ini sangat penting karena kurang lebih nunjukin seberapa besar pesta itu (baca: seberapa kaya si ortu mempelai).

Gw pernah datang kawinan di Semarang yang 1 jam terakhir acaranya diisi konser Agnes Monica, gilaa tuhh cakep banged Agnesnya pas lewat 20 cm di depan gw lagi, sayang ya ga sempet gw ajak foto bareng *sala fokus*. Selain ngundang Agmon, doi juga ngundang beberapa artis lain untuk nge MC, tapi gw lupa nama-namanya. Blakangan ga cuman pesta kawin ya, karena barusan ini ada yang pesta pindahan rumah (housewarming) manggil Choky Sitohang, Meisya Siregar, Bebi Romeo, Thomas Djorghi, dan Princess Syahrini. Yang di Semarang pasti tahu wakakakka. Trus ada pesta 1st Birthday anak ngundang Giselle Idol. Makanya gw pikir ya artis-artis seperti mereka ini kayanya kebanyakan diundang ke pesta orang daerah deh. Sbab kalo gw kondangan di Jakarta, jarang gw lihat mereka ngundang artis sebagai bintang tamu, meski pestanya besar di hotel Mulia atau Ritz Carlton. Emang bukan budayanya yaa..

2. Those Branded Thing

Dalam hal ini, kalah deh ama orang Jakarta. Mami gw beberapa bulan lalu jalan-jalan ke Amrik ikut tour sama papi gw. Pulangnya si mami cerita, katanya di rombongan tour mereka ada 1 keluarga yang keren banged dandannya. Kalo mami gw cuman bawa 1 tas handbag supaya ga menuh-menuhin bagasi selama 3 minggu tour, si tante Jakarta ini gonta-ganti tas terus, minimal bawa 3 tas dan semuanya high brand macam Hermes. anak cewe dan menantu cewe nya juga sama! Mami gw heran ngapain yaa kok bawa tas banyak-banyak, kan jadi ngurangin jatah space koper buat sopink dong yaa? Gak cuma tas tapi aksesori kalung dll juga ganti terus tiap ari. Gw sih cuman bilang, maklum Mah kalo liburan kan banyak foto-foto trus diupload di fesbuk ato instagram, ga lucu kan kalo semua fotonya nenteng 1 tas yang sama mulu? hahahahaha iya pada sadar ga sih, kalo musim liburan, instagram kebanjiran foto-foto orang travelling? Gw harus tahan iman pas lebaran kmaren gw nongkrong di rumah sedangkan insta gw dipenuhi foto temen gw di Jepang lah, di Australi lah, di Amrik lahh.. Apalagi nge post makanan! Aihhh gw mupeng berat kalo ada yang posting foto ramen (tetebhhh ya, soalnya gak ada ramen enak di semarang).

Balik lagi soal branded thing ya, sebenernya beberapa orang di Semarang juga suka beli barang-barang branded, tapi nggak segitunya seperti di Jakarta. Kalo di Jakarta gw lihat – maaf ya – ngga kaya-kaya banged juga gaya hidupnya berani. Berani beli tas merk, berani beli sabuk merk, pokoknya apa-apa kudu merk deh, baju bayi beli di Burberry, sepatu bayi beli di Gucci. Orang kaya daerah (yang gw tau lebih kaya karena asetnya banyak dimana-mana) juga gaya hidupnya not that branded-minded. Balik lagi, beda budaya kali yaaa…

Sama dengan mobil mewah, menurut gw orang Jakarta lebih berani spending untuk gaya hidup, termasuk tas mewah, mobil mewah, dan liburan. Jadi kelihatan dari luar mentereng dan wow banged. Padahal gw yakin kalo dibandingkan kekayaan secara nilai aset, orang daerah itu banyak yang lebih kaya, cman emang ga kliatan dari luar, demen nabung alias irit 😛

3. Makan

Menurut gw pribadi, buka usaha restoran di Semarang itu gampang-gampang susah. Karena pada kenyataannya, biasanya kalo resto baru buka 1-3 bulan pasti ramenya minta ampun sampe gak kebagian tempat, tapi cobalah tengok setahun kemudian. Blom tentu rame. Coba tengok 5 tahun kemudian, bisa jadi sudah tutup alias bangkrut. Kenapa begitu? Karena orang Semarang rata-rata makan masakan rumah dari senin sampai kamis, dan mulai hang out di restoran atau kafe pas weekend jumat, sabtu, dan minggu. Menurut gw, ini juga disebabkan karena di Semarang itu kemana-mana dekat. Jadi pulang kantor bisa pulang rumah makan malam dulu, lalu kalo bosan di rumah, baru keluar lagi cari hiburan entah nonton, ke mall, dll. Lain ama Jakarta yang waktunya habis di jalan, jadi biasa orang dari kantor mampir makan malam di jalan dulu *keburu laper kalo terjebak macet* trus pulang rumah mungkin udah jam 8-9 malam, tinggal tidur deh.

Jadi gw lihat kalo di Jakarta lebih konsisten pengunjung restorannya, Senin sampe Minggu juga tetap rame. Siang ato malam juga tetap rame. Kalo di Semarang kelihatan banged bedanya, weekdays siang biasanya sepi, rame kalo weekend malam. Maka dari itu menurut pendapat gw pribadi, resto kalo gak enak-enak banged di Semarang, susah untuk bertahan. Apalagi saingannya makanan warung-warung macam nasi ayam, nasi gandul, nasi goreng babat yang lebih menggoyang lidah dan murah meriah. Dan masih menurut pendapat gw pribadi, yang bisa membuat resto di Semarang bisa profitable dan bertahan untuk waktu yang lama adalah: masuk ke katering wedding. Dan memang resto-resto yang bisa bertahan lamaaaa sekali adalah resto yang menjadi vendor katering wedding.

Jadi intinya, soal jajan diluar di Semarang itu lebih irit daripada di Jakarta. Serius deh, kalo gw liburan di Jakarta, meski ngga sopink – sehari bisa abis duit lumayan banged, hanya karena gw makan di mall. Belom godaan cemilannya macam yoghurt, buble tea, cookies Famous Amos.. Belom lagi kalo di tengah-tengah sopink trus gw pegel dan pengen duduk lalu berakhir duduk di kafe makan pancake. Alamakk, di akhir hari gw heran knapa isi dompet cepet banged abisnya padaal ga sopink apa-apa. Kita tau itu semua berakhir di perut *glek*.

—————————————————————————————————————————————-

Segini dulu yaahhh uda kepanjangan ini. Akhir kata, maaf banged kalo ada yang tersinggung. Yang gw tulis sekedar opini subjektif dari gw saja 🙂

What I Found Lately from Internet

Kmren aku iseng ikut tes karakter style rumah disini: http://www.homegoods.com/stylescope. Coba deh!

Hasilku:

SASSY

Sassy is just that! She couldn’t be short on personality if she tried. She expresses herself with playful colors, fun patterns, and an unabashed boldness—all acquired at very savvy prices. She knows her style, and she’s not afraid to take risks and have fun. When you visit a Sassy friend, you can’t help but smile.

Well, intinya keliatannya aku suka warna-warna bold yang berani dan ceria *nerjemahin bebas* hihihi 😛

Oyah belakangan ini aku baru tau suatu tren baru: merusak gaun pengantin setelah acara pernikahan usai dan diabadikan di foto. Namanya “Trash the Dress” atau ‘Seni menghancurkan gaun pengantin’, coba gugle deh. Menurut om WIKI:

Trash the dress, also known as fearless bridal or rock the frock, is a style of wedding photography that contrasts elegant clothing with an environment in which it is out of place. It is generally shot in the style of fashion and glamour photography. “Trash the dress” is the art of destruction or deconstruction of a bride’s wedding dress to create a new “artwork” that the bride would be proud to display on their wall.

Jadi idenya adalah: kami hanya mau menikah sekali untuk selamanya, karena itu gaun ini tidak akan dipakai dua kali maka sebaiknya dirusak saja. Ada yang basah-basahan di laut, berkotor-kotor dengan pasir pantai, ditumpahin cat, dan bahkan dibakar (what?!). Sbenernya bisa juga dianggap post-wedding foto, karena sudah sah suami istri biasanya adegan fotonya lebih intim dan sexy. Hm kapan ya ini bakalan nge hits di Indonesia? Kayanya kecil kemungkinannya deh. Soalnya gaun pengantin disini biasanya heboh, dan pasti jatuhnya mahal. Lain ama gaun pengantin bule yang simple banged *mala daku curiga mungkin itu beli jadi, bukan bikin*, jadi mereka ga sayang waktu buang bajunya. Kalo kita seringnya sewa, atopun kalo beli / bikin, harganya bisa puluhan juta, dan mana tega sih buangnya?

Diambil dari www.shaynegraylearnsphotography.blogspot.com

Foto oleh Daniel Szysz, diambil dari http://trashthedresseurope.wordpress.com/

Foto oleh Olaf Siebert, diambil dari http://trashthedresseurope.wordpress.com/

Pernikahan (ternyata) nggak gampang

Bukan tentang aku ya

Cuman belakangan ini denger, si itu tuh uda pisah ama suaminya, si itu lagi proses perceraian, si anu mau cerai dan masih banyak lagi. Celakanya salah satunya adalah keluarga dekatku. Memang dari dulu kami tau pernikahan mereka tidak harmonis, bahkan sudah tidak berbicara satu sama lain selama 7 tahun. Si istri pengen cerai, si suami uda punya WIL. Bukannya kami tidak pernah berusaha mendamaikan, kami berusaha tapi lama-kelamaan kami sudah terlalu capek. It’s too complicated. Kalo kita dengar dari pihak istri, kita merasa iya si suami yang salah. Tapi ketika kita dengar dari si suami, kita merasa si istri juga ada salahnya. So? What should we do when there seems no solution? Yes we did pray, but sometimes we didn’t have faith anymore on their relationship. There seems no hope.

Salah seorang teman suamiku juga dalam proses perceraian. Penyebabnya karena si pria tidak sayang, menafkahi sangat sdikit, dan main tangan. Anaknya dua, dan herannya selama mereka pisah 6 bulan, si suami ini tidak pernah mencari atau berusaha bertemu anak-anaknya. Bukankah ada mantan istri, tapi tidak ada mantan anak? Kenapa rasa cinta itu lenyap bahkan ke anak-anaknya?

Seseorang lain yang aku tau juga dengar-dengar udah pisah rumah dengan suaminya. Bahkan dia sudah membawa PIL baru ke rumahnya. Padahal anak-anaknya sedang beranjak remaja. Padahal secara finansial mereka sangat kaya, bukankah biasanya perceraian paling banyak karena perkara uang?

Tidak memungkiri ya, kita yang baru 3 tahun menikah ini saja, kalo bertengkar bisa gelap mata dan kata ‘cerai’ itu terucap. Yah cuman emosi sesaat dan tidak serius. Tapi kita sadar, bahwa buat kita aja – yang notabene saling cinta dan melalui masa pacaran 3 tahun – merasa pernikahan itu nggak gampang, apalagi buat mereka yang pacarannya cman 3 bulan, ato yang MBA, ato yang dipaksa orangtua. Buat kita aja – yang tau Firman Tuhan – kadang masi suka ego dan ngotot-ngototan, apalagi mereka yang gak tau Firman. Kadang abis bertengkar dengan pasangan, aku baca lagi Amsal 31:10-31. Dari situ aku instropeksi, bahwa memang aku masih jauh dari ‘istri yang bijak’. Kadang aku diingatkan: “Tunduklah kepada suamimu sama seperti kepada Tuhan”. Ya memang itu tuntutan seorang istri: taat pada suami. Yang mana kalo lagi bertengkar, susyehhh banget, bawaannya kepengen bantah, ga kepengen iya-iya, hehehe.

Kesimpulanku, memang benar pernikahan harus bertiga menyertakan Tuhan. Karena kalo cuman berdua, ngandalin feeling dan rasa cinta, rasa itu akan memudar seiring banyaknya ketidakcocokan selama hidup bersama. Tapi dengan Tuhan, ada yang namanya perjanjian (covenant) dan commitment. Relationship start with love, but growing with commitment.

Dulu aku pikir kawin cere cuman di televisi. Karena pernikahan papa mama ku yang tergolong harmonis, aku kaget ketika melihat kenyataan beberapa keluarga lain ternyata tidak demikian. Setelah aku dewasa, mamaku kadang ‘curhat’ soal pertengkaran suami-istri mereka, well ternyata tidak seharmonis yang kubayangkan dulu. Ternyata pernikahan itu nggak gampang. Dibutuhkan komitmen dan usaha. Skarang aku merasa seharusnya tiap pasangan perlu merayakan anniversary kawin perak (25 tahun) dan kawin emas (50 tahun), karena sungguh luar biasa lo bisa bersama-sama selama itu. Suatu hal yang merupakan anugrah dan patut disyukuri 🙂

PS: tapi kayanya aku bakal second honeymoon pas anniversary 10 taon deh, gak sabar nunggu 25 taon wakakak

Tren Sosialita

Tadi siang aku dibuat kaget dengan berita yang disodorkan Jelang Siang oleh TransTV. Tidak biasanya acara berita menyodorkan sajian dengan judul: TREN SOSIALITA, memperlihatkan 15-20 wanita berdandan seperti ke pesta, dan riuh berfoto bersama. Mungkin sekilas seperti gerombolan artis sedang arisan bareng di sebuah restoran. Menurut laporan Jelang Siang, kata ‘sosialita’ sendiri dulu maknanya adalah wanita kalangan jet set yang rutin berpartisipasi di acara-acara sosial seperti derma kepada kaum papa. Namun disayangkan sekarang maknanya bergeser jadi kaum ibu-ibu kalangan jet set yang suka berkumpul bersama. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun jadwal mereka sungguh padat tak ubahnya wanita bisnis. Hari ini arisan, sore nanti ke salon, malam ini si Bu ANU ulang tahun dan dinner di hotel B. Begitu kira-kira.

Salah satu sosialita tersebut bersedia diwawancara Trans TV, sebut saja Bu AN ibu dari 3 anak, sebagai ibu rumah tangga dia perlu refreshing dan pergi bersama teman-temannya sekali waktu. Dia mengaku bahwa dia sudah mengantongi ijin suami, asalkan keluarga tetap jadi prioritas utama. Yang mana aku bertanya-tanya, bagaimana bisa sosialita dengan jadwal padat seperti itu, dan pengeluaran yang besar untuk mempercantik diri supaya ga kalah dengan teman-temannya, suaminya oke-oke saja di rumah merawat anak? Suamiku aja baru ditinggal nyalon 3 jam, dititipi anak, mukanya dah manyun kiyun waktu aku pulang.

Lalu ada istilah lain yaitu ‘social climber’, yang mana artinya orang bukan dari kalangan jet-set tapi berupaya bergabung dengan kaum high-end ini. Tentu tak mudah, karena kalangan sosialita tidak begitu saja menerima anggota baru. 

Lucunya kemudian seorang sosiolog ditampilkan, dia berkata bahwa disayangkan jika sosialita-sosialita ini menghabiskan uangnya untuk foya-foya, lebih baik untuk membantu kaum yang membutuhkan. Lalu ditayangkan kondisi perumahan kumuh di Indonesia dan bakcground suara: “…menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin jauh..” Memang sebuah ironi melihat tayangan ini, di satu tempat para ibu-ibu muda nan jelita ini tertawa riuh dan berfoto bersama (bahkan saking hebohnya ada yang naik ke meja), di tempat lain diperlihatkan orang-orang yang tidak mampu, mungkin untuk makan besok aja mikir gimana duitnya. Yang di benakku adalah bagaimana si Bu AN ini bereaksi melihat tayangan liputan arisannya (yang seharusnya prestige karena diliput oleh TV), berubah menjadi sebuah tayangan yang menyudutkan dirinya? Bukankah semua pemirsa menghakimi dirinya saat menonton tayangan tersebut? Apakah dia tidak tahu dari awal konsep tayangan ini, sehingga dengan senang hati mau diwawancara?

Lalu penyiar Jelang Siang kembali menginfokan bahwa bicara sosialita tidak lepas dari fenomena sebuah tas. Yakk apalagi kalo bukan Birkin dan Kelly dari Hermes. Lalu si Bu AN ini kembali diwawancara, kali ini di rumahnya, dia menunjukkan koleksi tas mewahnya. Beberapa Hermes (yang terlihat seperti gres), Balenciaga, dan Chanel. Dia memiliki beberapa tas Hermes, dan lebih dari 20 aksesori Hermes (gelang dst). Ketika ditanya alasannya mengoleksi tas Hermes, dia mengaku bahwa pada awalnya karena ikut teman. Teman-teman satu group memiliki tas ini, jadi dia ingin memiliki juga. Lalu keranjingan dan membeli beberapa. Padahal dia mengaku bahwa harganya terlalu mahal dan sebenarnya tidak sepadan dengan kualitasnya, hanya menang merk. Kulitnya, bahannya, hampir sama dengan tas-tas lain dengan harga di bawahnya. Tau kan, Hermes harganya bisa ratusan juta rupiah? Blom lagi yang limited edition. Tapi aku bukan penggemar Hermes, kalo mau lebih tau tentang tas ini bisa baca buku Hermes Temptation karangan Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang baru saja meluncur bulan ini. *promogratis*

Aku salut dengan salah seorang artis kita. Dia pernah berkata: “Aku ngga perna beli berlian ato tas bermerk. Bayangkan aja, harga satu tas Rp 60 juta. Itu ngga penting buat aku. Itu bisa buat beasiswa beberapa anak setahun. Nggak make sense banget.” (Cinta Laura, Jawapos 20 Juni 2011). Dia menyumbangkan penghasilannya ke yayasan ibunya, yang kegiatannya membangun sekolah-sekolah rusak, total ada 11 sekolah yang sudah dibangun.

Pernah nonton Machine Gun Preacher? Disitu seorang evangelist yang berjuang mati-matian membangun tempat perlindungan untuk anak-anak di Sudan. Dia menjual bisnisnya, menguras smua tabungannya, demi mendanai camp yang dibangunnya di Sudan. Di satu scene, dia marah besar kepada putrinya ketika putrinya meminta ijin untuk patungan dengan teman-temannya menyewa limousin untuk acara prom night nya. “Anak-anak di Sudan itu membutuhkan uang, dan kamu mau menghamburkannya untuk sebuah limo?”, bentak ayahnya.

Menurutku sah-sah saja orang mau beli tas merk, sepatu puluhan juta, mobil mewah, kalo memang orang itu sangat luber kekayaannya sampai tidak tahu lagi mau dipakai apa. Tapi aku menyayangkan banyak orang terutama generasi muda, giat menabung dan berhemat dengan tujuan untuk beli tas puluhan juta. Orang-orang ini membeli tas hanya untuk menunjukkan status sosialnya, menaikkan derajatnya, dan untuk memuaskan gengsinya di kalangan teman-temannya. Singkat kata: untuk pamer.

Kata-kata Cinta Laura dan si Evangelist tadi membuatku merenung, buat apa sih kita menggelontorkan duit 30 juta untuk sebuah tas? Masih banyak anak-anak di Ethiopia yang makan saja tidak bisa. Kita ini sudah beruntung punya rumah, bisa makan dan hidup secara layak. Tulisan ini sekaligus untuk mengingatkan aku, saat nanti aku kaya raya luber kemana-mana *ngarepdotcom*, hendaknya aku ingat bahwa diluar sana masih banyak anak yang kurang beruntung. Use your money wisely. We are blessed to bless.

Live in Socialite World

Sekarang ini udah gak jaman menjadikan selebriti sebagai panutan untuk ditiru gaya busana dan style nya. Sekarang ini justru para sosialita yang merajai trend dalam pemilihan busana atau tas dan sepatu.

Coba imajinasikan percakapan berikut:

“Gue mo nitip tas Hermes sama si Endang ah. Dia kan lagi ke Eropa.. lebih gampang dapetnya disana. Malu atuh, smua temen-temen arisan gue nenteng tas Hermes smua. Ntar kan bisa gue pake di acara ultahnya si Lili.”

“Klo gue mah udah punya Hermes. Lagi pengen sepatu Louboutin merah itu lho yang kaya punya si Dibbie.”

Barang-barang mewah seharga puluhan bahkan seratus juta itu dipercaya bisa menaikkan pamor sang pemakai. Mereka berburu barang-barang mewah tersebut. Kalo dah nenteng satu, rasanya bagaikan sejajar dengan kaum sosialita papan atas. I’m a girl in Hermes bag. Mungkin kalimat itu sukses membuat si empunya percaya diri di level ke-7. Walau negara lagi krisis, krisis moneter kek, krisis Century kek, the style must go on.

Walau tidak semua, tapi banyak sosialita ini yang krisis-percaya-diri. Mungkin membeli barang bukan lagi perkara ‘bagus yah’ melainkan ‘apa nih merk nya?’ Mari kita lihat majalah papan atas B*z**r. Halaman-halaman terakhirnya dipenuhi foto para sosialita. Inilah yang membuat para sosialita berpikir dua kali sebelum memakai sesuatu yang tidak bermerk ke sebuah ajang gaul yang kemungkinan bakal diliput sang majalah. Siapa sih yang mau ditulis di majalah: Dian Simbali in ManggaDua dress? Pasti ‘Dian Simbali in Roberto Cavalli’ terdengar lebih keren dan ‘layak’ untuk nampang di majalah.

Kefanatikan terhadap suatu merk ini juga menimbulkan pemberian ‘label’ kepada mereka. Si A yang kemana-mana tidak lupa menenteng Channel bag nya disebut-sebut sebagai Channel girl. Si B yang hobi pesiar keluar negeri juga diberi label ‘petualang’. Layaknya barang, tiap sosialita ini diberi label oleh orang sekitarnya. Ini namanya resiko orang terkenal – selalu dilihat dan dilabeli oleh orang sekitarnya.

Berhubung tidak tinggal di ibukota, aku tidak pernah ketemu sosialita papan atas – walau hapal nama-nama mereka saking seringnya nongol di majalah.
Tapi ada juga lho sosialita kecil-kecilan di Semarang. Berumur 17-25an, pergaulan sangat luas sehingga sanasini kenal semua, kerap hadir di acara ultah (siapapun yang ultah), rajin update facebook dengan foto teranyar, rajin update status Blackberry Messenger (BBM) supaya tetap ‘eksis’. Bahkan aku selalu punya kategori Socialita di facebook friends maupun di BBM contacts untuk menempatkan para ‘cowociwi gaul’ ini. Dan bisa ditebak, kategori ini pula yang paling sering aku cek update nya. Entahlah, mungkin karena mereka menarik dan enak dilihat – jadi ga bosen-bosen liat fotonya klo ada yang baru. Atau juga status nya yang sering lebay. Atau mungkin mereka emang punya magnet tersendiri ya, sehingga apapun yang berhubungan dengan mereka kok rasanya menarik untuk disimak.

Beberapa hari yang lalu aku diundang ke acara ultah teman – salah satu cewe di list Socialita. Bisa ditebak, yang datangpun banyak dan saling kenal. Setelah berbasabasi dan menyantap makanan yang begitu lezat dan nikmat, kuamati sekitarku. Rupa-rupanya banyak yang tengah asik memainkan HP nya, sebagian lagi menaruh HP nya tergeletak di meja. Mataku mengerjap-ngerjap, dari ujung meja sana sampai sini – kira-kira 20 orang lebih – semua menggengam Blackberry!

Memang deh namanya juga hidup di kaum Socialita. Eksis itu penting (facebook, twitter, Blackberry Messenger, majalah?), punya duit juga penting. Supaya ga ktinggalan memiliki barang-barang mewah seperti yang dimiliki teman sebelah. Emangnya mau sini keliatan paling butut bin kusut sedangkan sebelahnya bergaun seksi, ber tas Channel, rambut keluaran dari salon? 

Jadi sosialita itu mahal harganya bok ;P

Fesbuk Mania

Willena ngantukkk

Alex  : )

Diana ….

Familiar dengan yang diatas kah?

Akhir-akhir ini aku jengah ngeliat orang-orang yang update fesbuknya dengan status yang ‘gak-penting-banged-nged’.

Kalo ngantuk ya tidur lah! Ngapain update fesbuk telling your 400 friends klo kamu ngantuk? Hm heran sekaligus geli *wuf*

Maaf ya, bukannya anti update status facebook (walo kenyataannya aku update status bisa sebulan sekali doank), aku juga suka kok baca status facebook orang-orang. Terutama pas lebaran kmaren. Banyak yang kasi tau kalo di jalanan ke Jogja macet, atau mereka sedang berlibur dimana. Secara aku di rumah aja, jadi baca status temen di fesbuk lumayan membuatku ‘melihat’ dunia luar dan gak bosen di rumah. Tapi… kalo baca status gak penting seperti titik-titik doank (plis deh! ngapain lu updet titik-titik doank?) membuatku senewen dan pengen nge-remove ini orang dari status updating in facebook. (Hum.. is there any way to block their status update somehow?)

Terus terang aku menghargai orang-orang yang update status facebook mereka dengan ‘niat’. Yang kumaksud ‘niat’ disini paling tidak statusnya terdiri lebih dari 1 kata, isinya bermutu, bermanfaat buat yang baca, dari hati, atau niat untuk ngehibur orang lain, ngebanyol, dst.

Lucunya yah, aku merasa kita bisa menilai orang dari status yang ditulisnya. Contohnya ada cewek muda yang updet status nya dengan kata-kata seperti ‘koq ada ya orang yang gag tau malu seperti si A**** itu. huhhh!‘. Lah kok pake acara sindir-sindiran di fesbuk? Emang jaman kali ya anak SMA sekarang saling serang lewat status di fesbuk… Yah mau gag mau yang baca juga jadi nge judge mereka orang seperti apa, dari status yang mereka buat sendiri.

Anyway.. orang pasti bilang ke aku: ‘kalo gak suka ya jangan baca lah!’ Hahaha masalahnya daku suka baca status temen-temen di facebook, tau mereka lagi ngapain dan sukur-sukur ada yang kasi info restoran atao pilem baru. Aku cuma pinginnnn banged mereka update status nya dengan sesuatu yang lebih bermutu. Aku gak ingin membaca status sekedar ‘ngantuk’, ‘ : ) ‘ -> smiley doank , ‘ ….’ –> titik-titik doank.

Buruknya, saat ini friend request ku mencapai 481 orang. Sebabnya karena aku males approve mereka, tapi juga gak tega untuk ignore. Kadang aku suka lupa ini siapa, setelah dia ganti foto, baru nyadar ‘ooo ini si A toh!’ . Makanya kadang aku tunggu beberapa saat sebelum akhirnya aku tega-tegain untuk klik ignore. Abis aku bingung, orang gak kenal, ngapain sih nge add? Toh pada akhirnya kita cuma berstatus ‘friend’ di facebook tapi tetap tidak saling mengenal satu sama lain. Sorry, tapi aku tidak tertarik untuk koleksi ‘friends’ di facebook.

Bukankah facebook adalah jejaring sosial untuk mencari teman lama, teman saat ini, dan mencari teman baru? Tapi apa artinya kalo stelah nge add lalu berakhir sampai disitu? Tanpa message perkenalan – lu siapa gw siapa – hanya sekedar pengumuman di fesbuk: “Andre and Stefanie are now friends”. Betapa general nya kata ‘friends’ disitu, kenal aja nggak! Makanya daku lumayan selektif meng-approve friend di facebook. Dibilang sombong yah biarin lah, yang penting gak bertentangan dengan hati nurani *ceileh 😛

Maaf ya kalo ada yang tersinggung.. Mohon disunggingkan senyuman ajah 🙂